Bagaimana Jika, Ternyata Perbedaan Mindset Yang Membuat Pergerakan Tersendat

kaderisasi muhammadiyah

Ditulis oleh PCM Purwareja-Klampok

20 July 2026

Pernahkah berpikir bahwa hambatan terbesar dalam sebuah pergerakan organisasi bukan disebabkan oleh minimnya kader, atau Muhammadiyah yang sudah tidak relevan?, sebelum itu, kita perlu sepakat kalau Muhammadiyah merupakan organisasi yang inklusif, tidak pernah memandang latar belakang dan profesi seseorang, selama dia mau bergembira di Muhammadiyah, maka dia adalah anggota persyarikatan, tentu dengan kriteria yang telah ditetapkan bersama.

Hal ini baru aku pikirkan beberapa hari lalu, di saat aku sedang duduk di ruang tamu sambil menyesap secangkir kopi panas. Aromanya menyeruak ke setiap saraf indera penciuman, ternyata aroma itu yang membuka tabir pertanyaan-pertanyaanku selama ini, tentang “kenapa, kaderisasi Muhammadiyah di tempatku begitu sulit?” kemudian “mengapa, Muhammadiyah selalu dipandang elitis?” sempat terpikir kalau memang begitu adanya.

Namun waktu seolah memberikan jawabannya secara perlahan, rintikan air yang melengkapi setiap puzzle akhirnya memberikan gambaran-gambaran jawab, semakin lama semuanya semakin jelas.  Dari rapat ke rapat yang lain muncul penjelasan. Ternyata sebagian tidak kita hanya mengenyam pendidikan sampai SMP saja?

Ada sedikit pengamatan pribadi dari setiap hari ber-Muhammadiyah, memang beberapa materinya terlampau berat dan terkesan begitu akademis. Tentu mereka yang riwayat pendidikannya tidak seberuntung kita, akan sulit mengikutinya, “lantas apakah kita hanya menyalahkan mereka, atas keadaan yang sebenarnya mungkin tidak mereka kehendaki?.” sejenak pikiran ini berkeliling mengelilingi perpustakaan strategi, apakah mungkin persyarikatan kita sedikit menurunkan arogansi intelektualnya demi melangkah bersama ke lantai yang lebih tinggi. Pasalnya banyak dari kalangan pemuda mengalami problema demikian, yang secara tidak langsung berpengaruh kepada tingkat atensi terhadap agenda persyarikatan. Fisik mereka hadir akan tetapi hanya sekadar berada di pelataran acara dan tidak menyimak secara saksama tentang apa yang sedang dibahas.

Dari beberapa problema yang ada, sangat jelas bahwa ‘mindset” sangatlah berpengaruh terhadap pergerakan persyarikatan, ini yang tentunya perlu menjadi sebuah pembahasan kita, mengingat kondisi roda kaderisasi di akar rumput mulai berderik karena karat. Perlu sebuah bumbu-bumbu gurih agar lapisan Muhammadiyah yang satu ini “pemuda” memiliki hembusan napas yang seirama dengan persyarikatan.

Gedung Muhammadiyah boleh mewah, Sekolah dan Kampus Muhammadiyah boleh megah, tapi bukankah akan menjadi percuma jika roda kaderisasi di tingkat cabang hingga ranting justru tersendat. Bukankah The Real Muhammadiyah adalah Pergerakan di Tingkat Cabang dan Ranting.

 

Kontributor: Hijran Daffa Izzabik (MPI PCM Purwareja Klampok)

Editor: Dhimas

Mungkin Anda Suka

Tips Berdakwah di Era Digital

Tips Berdakwah di Era Digital

Di zaman sekarang, dakwah tidak hanya dilakukan di mimbar masjid, majelis taklim, atau pengajian kampung. Perkembangan...