Apapun Statusnya, Profesi Guru Harus Mendapatkan Penghasilan yang Layak

gaji guru

Ditulis oleh Dhimas

Seorang Perawat di Klinik Utama PKU Muhammadiyah Merden

4 May 2026

Siapa suruh jadi Guru, sudah tahu gajinya kecil.

Kalimat di atas pernah saya dengar secara langsung dan tidak hanya sekali saya menemukan kalimat dengan konteks serupa di kolom komentar media sosial. Komentar tersebut terkesan ada benarnya, tapi untuk mendalami nasib Guru di Indonesia, tentu tidak semudah menyobek amplop kertas.

Sadarilah bahwa sebelum seseorang bisa berkata “siapa suruh jadi Guru, sudah tahu gajinya kecil,” ada peran Guru yang secara telaten mengajarkan abjad, suku kata, ejaan, pantun, kalimat efektif, hingga beragam majas. Kira-kira, pantaskah narasi tersebut dilemparkan kepada profesi yang sudah meningkatkan kemampuan literasinya?

Kita tidak bisa menutup mata perihal Gaji tenaga pendidik khususnya honorer yang nominalnya tidak lebih dari separuh gaji tukang cuci ompreng di SPPG. Nyatanya masih ada Guru dengan gaji di bawah 1 juta rupiah per-bulan, bahkan angka tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan UMK Banjarnegara yang berada di peringkat UMK terendah di Jawa Tengah bahkan di Indonesia. Secara sosial ekonomi, angka tersebut sudah berada dalam golongan miskin. Dua kata lucu, Guru Miskin.

Sementara itu, di luaran sana banyak lulusan SMA/SMK yang bisa memperoleh penghasilan di atas UMR, sedangkan gaji tenaga pendidik masih saja belum merata, masih ada Guru yang kurang beruntung dalam hal penerimaan gaji, jika hal ini dibiarkan, tentu saja kita bisa berasumsi bahwa Negara tidak membutuhkan orang pintar, nyatanya urusan pendidikan tidak lebih penting daripada urusan catering bertajuk makan bergizi gratis.

Namun tak elok rasanya jika kita terlalu membanding-bandingkan antara pendidikan dan urusan catering (baca: MBG), karena sudah bisa dipastikan kalah telak, bahkan sudah kalah secara program prioritas. Sedih? Jangan ditanya.

Di sini mari kita mencoba menyelami, mengapa masih ada guru dengan gaji yang mengenaskan, mengapa masih ada guru honorer, mengapa masih ada sekolah swasta (tak terkecuali sekolah Muhammadiyah) yang menggaji Guru dengan nominal setara uang saku anak sekolah?

Apakah masih ada narasi “gaji tibo keri” (gaji urusan belakangan) yang membuat lulusan keguruan, rela dibayar rendah karena ada harapan nanti akan mendapatkan penghasilan yang layak. Atau masih adakah orang tua yang menjadikan Guru sebagai “profesi keren” dan layak berada dalam lingkaran bernama calon menantu idaman?

Duh sayangnya, narasi di atas tak bisa menjawab kebutuhan dasar dan kebutuhan mendesak, seperti kondangan, kuota internet hingga urusan krusial seperti jahit seragam.

Beban Guru saat ini juga tidak hanya mengajar di kelas, beban administrasi rupanya membuat Guru harus berbagi energi baik saat di kelas atau saat di ruang guru, tak terkecuali energi di rumah jika sudah berkeluarga.

Narasi menyedihkan juga muncul saat pemerintah mengeluarkan regulasi terkait pelarangan Guru Non-ASN mengajar di sekolah negeri per 1 Januari 2027, artinya masih ada waktu beberapa bulan sejak tulisan ini dibuat agar para Guru Honorer memiliki waktu untuk memikirkan langkah mitigasi demi menyelamatkan ekonomi keluarga, mungkin buka usaha atau melamar pekerjaan di tempat lain seperti pengajar di tempat les.

Tulisan ini tidak akan memberikan solusi tentang bagaimana nasib guru terjamin, mengingat manusia sekelas pejabat sudah terlampau sering memikirkan kurikulum, tapi abai saat ada guru yang terjerat pinjol.

Semoga semboyan ikhlas beramal tidak menjadi tameng di balik Guru yang mengeluhkan isi dompetnya, meski rezeki sudah dijamin, tapi Gaji Guru yang layak adalah tanggung jawab para pejabat yang gajinya berasal dari pajak yang dibayar rakyat.

Baca Juga: Muhammadiyah yang Tidak Hanya Berkemajuan Tetapi Juga Berkesenjangan

Momen Hari Pendidikan Nasional sudah semestinya menjadi refleksi, bahwa selama ini kita sering abai terhadap kesejahteraan tenaga pendidik. Mereka mengajar tak hanya membuat siswa menjadi tahu tentang penghitungan dasar dan unsur intrinsik cerita, mereka mengajar juga memiliki harapan agar kehidupannya menjadi lebih tertata tanpa khawatir akan cicilan dan narasi “besok makan apa?”

Kontributor: Dhimas Raditya Lustiono

Editor: Dhimas

Mungkin Anda Suka

Tips Berdakwah di Era Digital

Tips Berdakwah di Era Digital

Di zaman sekarang, dakwah tidak hanya dilakukan di mimbar masjid, majelis taklim, atau pengajian kampung. Perkembangan...