Kami mengenalmu melalui semburat cahaya pagi.
Semburatnya menciptakan wangi candu yang memabukkan.
Namun, ketika kami memilih, gelagat menjengkelkan daripadanya muncul.
Seperti…..
Kekerasan verbal yang tak langsung melukai jiwa.
Muhammadiyah, mengapa engkau berlaku demikian?
Bahkan saat rintik hujan mengenai ranting, cipratannya berserakan karena arah yang abstrak.
Untung saja….
Pak Haedar Nashir masih berbicara lembut; napasnya masih menyebarkan sejuk.
Lihatlah, para pimpinan! Guru-guru kita di akar rumput ini.
Mereka mengais tanah kering, berharap ada kesejukan di tengah kerontang.
Di saat kalian duduk di atas, para penggembira tetap tersenyum, meski lidahnya getir.
Namun, itu tak cukup untuk membuat kami membencimu.
Corak batikmu terlalu indah, seperti senyuman seorang gadis terpelajar.
Lalu bagaimana….
Kami yang akar rumput ini, dapat tetap membersamaimu?
Di saat, rasa cinta dan benci berkolaborasi, di setiap hentakan langkah kami?.
Hijran D.I
Purwareja, 29 April 2026



