Pengajian Akbar PCNA Kalibening. Ustaz Wahyudin: Perempuan Harus Memiliki Wawasan yang Luas

Ustaz Wahyudin

Ditulis oleh PCM Kalibening

28 July 2026

Kalibening, 26/7/2026. Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Kalibening menggelar Pengajian Akbar sekaligus Puncak Peringatan Milad Nasyiatul Aisyiyah (NA) ke-95. Mengusung tema “Perempuan Muda Tangguh, Mencerahkan Peradaban”, rangkaian acara ini diselenggarakan sebagai ruang silaturahmi, wadah apresiasi kreativitas kader Nasyiah, serta dorongan peran strategis perempuan muda Muhammadiyah di tengah masyarakat khususnya di Kalibening.

Puncak acara Milad ke-95 ini dihadiri oleh penceramah utama Ustaz H. Wahyudin, S.Ag., M.Si. (Sekretaris PDM Banjarnegara / Mudir MBS), H. Wagiyono (Penasihat PCM), jajaran PCA Kalibening, PCPM, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, IPM, perwakilan BTM, Lazismu, PKU Muhammadiyah Kalibening, SMA Muhammadiyah, MTs Muhammadiyah, MBS, hingga perwakilan Fatayat NU Kecamatan Kalibening.

Dalam tausiahnya Ustaz Wahyudin memberikan, motivasi, serta resep pergerakan bagi kaum perempuan muda Muhammadiyah agar senantiasa menjadi kader yang tangguh di berbagai peran kehidupan

1. Pembukaan: Kehangatan Pantun dan Nostalgia Sejarah

  • Pantun Khas: Wahyudin membuka tausiyahnya dengan menyapa seluruh pimpinan dan sesepuh. Ia mencairkan suasana melalui bait pantun hangat: Burung merpati terbang melayang, Hingga sejenak di dahan kelapa. Nasyiatul Aisyiyah terus berjuang, Perempuan muda tangguh mencerahkan peradaban bangsa.”
  • Akar Sejarah “Siswa Prayo Wanito”: Beliau mengulas sejarah lahirnya Nasyiatul Aisyiyah yang semula bernama Siswa Prayo Wanito. Nama Prayo/Projo mencerminkan sosok yang gemar bekerja keras dan berjuang, yang sangat relevan dengan semangat gerak NA hari ini.

2. Menyiapkan Generasi Emas 2045 & Budaya Literasi

Mengangkat tema pencerahan peradaban, H. Wahyudin menekankan pentingnya peran ibu cerdas dalam menyambut agenda besar bangsa:

  • Bonus Demografi (2035) & Indonesia Superpower (2045): Indonesia berpeluang menjadi negara adidaya setara dengan Tiongkok dan AS jika memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.
  • Syarat Utama (Tiada Hari Tanpa Membaca): SDM berkualitas hanya lahir dari budaya membaca. Kader NA diimbau memegang komitmen “Tiada hari tanpa membaca” (minimal 1 tema sehari, baik soal agama, pengasuhan, hingga keterampilan praktis).
  • Satire Literasi: Mengutip data bahwa dari 1.000 orang Indonesia hanya 1 yang memiliki minat baca tinggi, beliau mengingatkan pentingnya membalikkan fakta ini demi kemajuan bangsa.

3. Keteladanan Ibunda Imam Syafi’i: Mutiara Sejarah Islam

Sebagai potret nyata peran ibu pintar, Ustaz Wahyudin mengisahkan perjuangan Ibunda Imam Syafi’i (Muhammad bin Idris):

  • Falsafah Timba Mencari Sumur: Ibunda Imam Syafi’i mempraktikkan keaktifan murid/penuntut ilmu mencari guru. Beliau mendampingi perjalanan jauh sang anak dari Gaza ke Makkah demi menuntut ilmu dari syeikh ke syeikh.
  • Dua Syarat Keteguhan Hati:
    1. Relakan perpisahan di dunia dan bertekad dipertemukan kembali di surga.
    2. Hanya boleh pulang jika membawa ilmu yang bermanfaat, bukan kelimpahan harta materi semata.
  • Pesan Moral: Keberhasilan tokoh besar lahir dari doa, keikhlasan, dan keteguhan pendidikan seorang ibu yang meluruskan niat semata-mata mencari keridaan Allah SWT.

 

4. Membedah Formula Karakter “P-E-R-E-M-P-U-A-N” Tangguh

Secara rinci dan diselingi kelakar khas yang segar, H. Wahyudin menjabarkan akronim PEREMPUAN sebagai resep kader unggul:

  • P – Pintar: Memiliki wawasan luas untuk mendidik anak (Madrasatul Ula) dan menjawab tantangan zaman (QS. Al-Mujadilah: 11).
  • E – Enerjik & Elegan: Memiliki daya tahan/resiliensi tinggi, aktif dalam berbagai kegiatan sosial/kemasyarakatan, serta membawakan diri secara luwes dan bermartabat.
  • R – Ramah: Murah senyum, sederhana, dan bijak dalam memilah masalah pribadi agar tidak mengganggu jalannya pergerakan.
  • E – Empati & Egaliter (Kesetaraan Tugas Domestic): Mengkritik stereotip lama (“Ini Budi, Ibu di dapur, Ayah membaca koran”). Beliau menegaskan urusan rumah tangga (memasak, mencuci) adalah tanggung jawab bersama antara suami dan istri demi keharmonisan.
  • M – Mandiri: Mampu menjalankan berbagai peran dan memajukan organisasi (PCNA) secara swadaya, solid, dan sigap.
  • P – Penyayang: Memberikan kasih sayang tulus dan pendidikan karakter sejak dini kepada anak-anak.
  • U – Ulet: Menanamkan kemandirian pada anak agar siap bertahan hidup (exist) tanpa rasa cemas berlebihan (anxiety), meyakini bahwa rezeki telah dijamin Allah SWT (QS. Hud: 6).
  • A – Anggun: Mengedepankan keindahan akhlak, kesederhanaan, dan kejujuran di atas kemewahan materi semata.
  • N – Ngangeni (Dirindukan): Menjadi pribadi yang senantiasa dirindukan kehadirannya, baik di tengah keluarga maupun di dalam organisasi.

5. Pesan Khusus dan Komitmen Berorganisasi

Di akhir tausiyahnya, H. Wahyudin memberikan apresiasi tinggi atas dinamika pergerakan Nasyiatul Aisyiyah yang bersimbol padi terus tumbuh dan memberi manfaat setiap hari.

Baca Juga: Semarak Milad ke-95 PC Nasyiatul Aisyiyah Kalibening: Dari Isu Kesehatan Mental, Inovasi Lingkungan, hingga Pesan Ketahanan Keluarga

Pesan Kunci untuk Kader:

“Luangkan waktumu untuk organisasi, bukan menunggu waktu luangmu.”

Acara pengajian dilanjutkan dengan apresiasi kemeriahan Milad (penampilan bakat, perlombaan, dan pembagian doorprize), serta ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan keluarga, keberkahan rezeki, dan keteguhan kader dalam menggerakkan persyarikatan.

 

Kontributor: Mister Kismadi, (SE MPI PCM Kalibening dan KMM PDM Banjarnegara)

Editor: Dhimas

 

Mungkin Anda Suka