KALIBENING – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kalibening menyelenggarakan gelaran rutin Pengajian Ahad Pon yang bertempat di Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Karanganyar, Desa Karanganyar, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Ahad (13/9/2026). Kegiatan ini dihadiri sekitar 3.000 hingga 4.000 jemaah yang memenuhi lokasi acara dengan penuh hidmat dan antusias.
Acara diawali dengan sambutan tuan rumah oleh PRM Karanganyar, Hadi Susilo. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran jajaran pimpinan daerah, instansi pemerintah, serta para donatur yang telah mensukseskan acara. Ucapan terima kasih khusus ditujukan kepada Kepala Desa Karanganyar, Kastini, S.Pd.SD., serta Budi Sudarmo yang telah memberikan dukungan fasilitas maupun donasi kegiatan.
Hadi Susilo mengapresiasi tingginya rasa kebersamaan warga Desa Karanganyar dari berbagai latar belakang yang menyatu dalam mendukung kelancaran pengajian. Di akhir sambutannya, panitia menampilkan potensi generasi muda Muhammadiyah melalui penampilan Zhafira, siswi SD Muhammadiyah Banjarnegara.
Selanjutnya, Ketua PCM Kalibening, Hidayanto, menggarisbawahi pentingnya kerukunan antarwarga dan ukhuwah Islamiyah di wilayah Kalibening. Ia menyampaikan dua poin penting:
- Keseimbangan Hidup:Mengajak jemaah agar tidak terjebak dalam gaya hidup hedonisme serta tetap seimbang dalam berikhtiar mencari rezeki dunia dan mempersiapkan bekal akhirat.
- Konsolidasi Keorganisasian:Mengimbau seluruh pimpinan pimpinan cabang dan organisasi otonom (Ortom) untuk mempersiapkan kehadiran dalam agenda Turun ke Bawah (Turba) Jilid II PDM Banjarnegara.
Camat Kalibening, Agus Purnomo, S.H., mengapresiasi kondusifitas dan kerukunan lintas organisasi di wilayahnya. Mumpung berkumpul dengan ribuan warga, Camat menyampaikan empat poin imbauan mendesak:
- Dampak Judi Online:Peringatan tegas mengenai pemblokiran rekening bantuan sosial (PKH/Bansos) bagi keluarga yang terdeteksi anggota keluarganya bermain judi online.
- Krisis Air Bersih:Mengimbau warga untuk berhemat air di tengah musim kemarau serta segera berkoordinasi untuk dropping air bersih dari BPBD.
- Kewaspadaan Bencana Gempa:Meminta warga tetap tenang namun waspada terhadap potensi aktivitas gempa bumi lokal.
- Antisipasi Banjir:Mengajak warga mulai membersihkan saluran air menjelang masuknya musim hujan pada akhir Oktober.
Perwakilan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banjarnegara, Ali Mubasir, turut memberikan apresiasi tinggi kepada tim paduan suara serta penampilan qariah cilik Hafizhah (Juara 1 MTQ Tingkat Kabupaten). Dalam kesempatan tersebut, PDM memaparkan aksi nyata kepedulian sosial Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Banjarnegara melalui penyaluran puluhan ribu liter bantuan air bersih bagi warga terdampak kemarau parah di wilayah selatan Banjarnegara, seperti Desa Jalatunda, Kecamatan Mandiraja.
Pada kesempatan yang sama Anggota DPRD Kabupaten Banjarnegara, Marno, mengingatkan esensi beragama yang sejati. Ia menegaskan bahwa ibadah ritual seperti salat harus melibatkan kesadaran jiwa agar tidak sekadar menjadi gerakan raga, tetapi melahirkan kejujuran dan rahmat dalam kehidupan bermasyarakat.
Transparansi Keuangan Persyarikatan
Sebagai bentuk akuntabilitas publik, Bendahara PCM Kalibening, Agus Budiyono, memaparkan laporan keuangan organisasi di hadapan jemaah:
- Pembangunan Gedung Dakwah Muhammadiyah Kalibening:Total Pemasukan Rp 1.084.235.000, Total Pengeluaran Rp 990.611.992, sehingga Saldo Akhir pembangunan tercatat Rp 93.723.078.
- Kas Operasional PCM Kalibening:Pemasukan sebesar Rp 11.387.863 dan Pengeluaran sebesar Rp 6.857.233, sehingga Saldo Kas PCM saat ini mencapai Rp 432.204.870.
- Donasi Kemanusiaan NTT:Perolehan dana kemanusiaan yang dihimpun KL Lazismu Kalibening terkumpul sebesar 825.500.
Acara pengajian juga diselingi penampilan khitobah dai cilik, Ananda Hafizhah, yang membawakan pesan moral bertema “Membiasakan Hidup Jujur Anti-Korupsi”.
Tausiyah utama disampaikan oleh Pembina Ma’had Fastabiqul Khoirot Purwokerto, Ustaz H. Mintaraga Eman Surya, Lc., M.A. Mengangkat tema “Hidup Seimbang: Berikhtiar Dunia, Berbekal untuk Akhirat”, beliau memaparkan poin-poin kunci:
1. Memindahkan Manusia dari Kegelapan menuju Cahaya (An-Nur)
Mengawali tausiyahnya, Ustaz Mintaraga menegaskan bahwa tugas utama para Rasul yang membawa Ad-Dinul Haq (Islam) adalah membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya (liyukhrijan-naasa minadh-dhulumaati ilan-nuur).
- Kegelapan (Dhulm):Melambangkan kezaliman, kekufuran, dan ketutupan hati. Manusia yang kehilangan cahaya petunjuk rentan berbuat zalim, menghalalkan segala cara (sikut kanan-kiri, sundul ngatas, jejeg ngisor), serta mengabaikan hak sesama demi mengejar materi semata.
- Cahaya (Nuur):Melambangkan petunjuk Islam, kebenaran, dan keterbukaan hati.
- Makna Syukur vs Kufur:Kufur berasal dari kata kafara yang berarti “menutup” hati dari petunjuk Allah. Sebaliknya, syukur berarti “membuka” hati dan pikiran untuk menerima cahaya petunjuk-Nya sehingga jalan hidup menjadi terang (padang).
2. Syukur atas Kesuburan Negeri dan Ketetapan Hati Menghadapi Masa Depan
Dalam perspektif kebangsaan dan kehidupan, Indonesia dikaruniai potensi sumber daya alam yang melimpah, iklim tropis yang ramah, tanah yang subur, serta kekayaan laut yang melimpah. Nikmat keberkahan alam ini wajib disyukuri dan dirawat dengan bijaksana, bukan dirusak oleh sifat serakah.
Menghadapi dinamika duniawi, beliau mengingatkan kriteria kekasih Allah (awliya Allah), yaitu mereka yang tidak dilanda ketakutan (la khaufun ‘alaihim) dan tidak bersedih hati (wa la hum yahzanun). Umat diajarkan untuk tidak panik menghadapi perubahan zaman, tetap tenang, serta menikmati proses kehidupan dengan keikhlasan. Beliau juga menyentil realita sosial era digital, di mana komunikasi fisik di dalam rumah sering tergantikan oleh layar gadget, sehingga otentisitas dan kehangatan komunikasi keluarga harus dihidupkan kembali.
3. Islam yang Progresif dan Terorganisasi melalui Muhammadiyah
Ustaz Mintaraga menegaskan bahwa Islam tidak cukup hanya menjadi keyakinan pasif, melainkan harus diilmui, diamalkan, dan diperjuangkan secara terorganisasi (ta’awun ‘alal birri wat taqwa).
Merujuk pada Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH) Poin 1, Muhammadiyah adalah gerakan Islam (al-harakah) yang dinamis dan progresif. Dakwah Muhammadiyah berlandaskan tiga prinsip utama:
- Menggembirakan:Merangkul dan membawa ketenangan, bukan memukul atau membebankan jemaah.
- Mencerahkan:Membuka jalan pikiran dan hati masyarakat melalui bimbingan Al-Qur’an dan Sunnah.
- Memakmurkan:Mendorong terwujudnya kesejahteraan nyata menuju masyarakat utama yang bertakwa, adil, dan makmur (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur).
4. Hakikat Kebaikan Dunia dan Akhirat (Hasanah Fid-Dunya wa Fil-Akhirah)
Keseimbangan hidup diwujudkan melalui pencapaian hasanah fid-dunya dan hasanah fil-akhirah:
- Makna Kebaikan Dunia (Hasanah Fid-Dunya):Mencakup seluruh kebutuhan hidup seperti kesehatan, rezeki yang melimpah, ilmu bermanfaat, hingga rumah yang lapang (al-manzilul wasi’). Merujuk penjelasan ulama, rumah yang lapang tidak selalu diukur dari besarnya bangunan fisik, melainkan hati yang senantiasa kelapangan, tenteram, dan tidak banyak mengeluh.
- Makna Kebaikan Akhirat (Hasanah Fil-Akhirah):Puncak pencapaian setiap muslim, yaitu keselamatan di Padang Mahsyar, kemudahan hisab, dan keberhasilan meraih surga Allah SWT.
5. Menjadikan Rumah dan Keluarga sebagai Sumber Kesejahteraan
Rumah hendaknya dijadikan tempat menghidupkan ibadah, salat sunnah, dan tilawatil-Qur’an, bukan sekadar tempat berdiam diri apalagi maksiat. Rasulullah SAW mengingatkan agar tidak menjadikan rumah seperti kuburan, karena setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan Al-Qur’an (seperti surah Al-Baqarah).
- Makna Ikhtiar:Berasal dari kata ikhtara yakhtaru ikhtiyar yang berarti “memilih”. Manusia diberikan kebebasan memilih jalan hidupnya, sedangkan usaha fisik disebut kasab atau sa’i.
- Tanggung Jawab Suami & Istri Soleha:Suami memegang janji yang berat (miitsaaqan ghalizhan, QS. An-Nisa: 21) untuk memimpin dan merawat istri karena kelak akan diaudit di akhirat. Sementara istri soleha menjadi harta terbaik laki-laki bersama hati yang bersyukur dan lisan yang berzikir yang membantu suami dalam urusan agamanya.
6. Kesalehan Sosial dan Kepedulian Komunitas
Kesejahteraan masyarakat berawal dari pembentukan keluarga yang baik (qoryah thoyyibah). Ustaz Mintaraga mendorong penguatan kembali Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah (GJDJ) berbasis komunitas (seperti Dasawisma per 10 KK). Bentuk praktisnya meliputi saling mengajarkan perawatan jenazah hingga gotong royong membantu warga yang tertimpa musibah duka.
Beliau menekankan pentingnya mengutamakan Ibadah Muta’addiyah (ibadah sosial seperti bersedekah dan meringankan beban sesama) yang memiliki bobot pahala sangat besar dibandingkan ibadah yang manfaatnya hanya untuk diri sendiri (qashirah). Pembentukan masyarakat utama memerlukan tiga pilar (Tri E): Education (Pendidikan), Environment (Lingkungan), dan Experience (Pengalaman).
Baca Juga “Sepak Bola Taring” Perkuat Ukhuwah Pemuda Muhammadiyah Cabang Pagentan
Slogan Penggerak
Sebagai penutup dan pemecah semangat jemaah, disampaikan slogan penggerak persyarikatan:
Muhammadiyah: Menggembirakan
Cabang Kalibening – Pandanarum: Mencerahkan
Ranting Karanganyar: Memakmurkan
Kontributor: Mister Kismadi, SE (Ketua Majelis Pustaka Informasi & LPCR Cabang Kalibening)
Editor: Dhimas



