Matahari telah lama terbenam, menggantikan siang yang menyengat dengan pekatnya malam. Namun di beberapa desa yang dicengkeram kekeringan panjang, malam bukanlah waktu untuk beristirahat sembari menonton biduan dangdut di ajang dangdut academy, malam adalah waktu bagi masyarakat untuk mengisi jerigen dengan air, untuk kebutuhan mandi, cuci hingga ngopi.
Di bawah temaram lampu senter dan sorot lampu kendaraan pengangkut torn, puluhan ember, jerigen, dan panci berbaris rapi di atas tanah yang telah lama tidak dibasahi oleh hujan. Warga yang didominasi ibu-ibu dan mbah-mbah, sedang menanti kedatangan satu hal yang paling berharga di desa mereka saat ini, yakni air bersih.
Di balik kemudi, sosok Jarot duduk dan menekan klakson, seakan memberi kode kepada warga yang membutuhkan air bersih. Seketika ia menyeka peluh yang bercampur debu jalanan. Lelah baginya hanya menjadi mitos, di saat banyak ibu-ibu yang rela melakoni perjalanan naik turun demi mencuci baju.
Bagi kita yang beruntung, air adalah komoditas yang begitu mudah didapat, cukup putar keran dan air-pun mengalir memenuhi bak mandi. Namun bagi warga yang terdampak kekeringan, setiap tetes air adalah napas kehidupan yang harus diperjuangkan dengan kesabaran luar biasa. Ada anak kecil yang harus mandi, tumpukan piring kotor yang menanti kucuran air, hingga urusan mencuci baju agar dapat dipakai kembali.
Pertarungan Melawan Waktu dan Medan Terjal
Bagi Jarot, hari belum benar-benar selesai meskipun kewajiban utamanya di siang hari telah usai. Sembari menuntaskan tanggung jawab di tempat kerjanya, ia kerap baru bisa melangkah membawa misi kemanusiaan ini begitu jarum jam menunjuk pukul 16.30 atau 17.00 sore. Dari situlah perjalanan panjangnya dimulai.
Dari balik kemudi, Pria yang kerap mengemudikan Ambulance Klinik Utama PKU Muhammadiyah Merden tersebut, bisa membawa sekitar 1.820 hingga 1.850 liter air bersih di setiap perjalanannya. Dalam sehari, di tengah keterbatasan waktu dan tenaga, Pria yang telah mendonorkan darah sebanyak lebih dari 50x tersebut sanggup menembus batas lelah demi melewati jalanan rusak hingga 3 sampai 4 kali perjalanan, bahkan pernah sampai 5 kali perjalanan bolak-balik karena terdapat laporan dari masyarakat yang membutuhkan air bersih.
“Medan yang susah dan terlalu nanjak menjadi tantangan tersendiri,” tutur Jarot sembari memonitor gawainya yang berisi permohonan pengiriman air bersih.
Medan yang ekstrem, tanjakan curam yang menguji keandalan mesin, serta jalanan berbatu yang minim penerangan tak pernah menyurutkan langkahnya. Perjuangan itu baru usai jauh di larut malam saat acara dangdut academy sudah selesai, sering kali Jarot baru bisa memarkir kendaraan dan pulang ke rumah pada pukul 11.00 malam, bahkan kadang kala baru tiba jelang dini hari pukul 00.30.
Meredam Ego di Tengah Krisis
Mengantar air bersih bukan sekadar urusan memutar setir dan menekan pedal gas/rem. Ada sisi psikososial yang terkadang menguras emosi lebih dalam daripada sumur bor perumahan.
Saat Jarot tiba di lokasi lengkap dengan membawa air bersih, pemandangan yang menyambutnya hampir selalu sama, yakni ibu-ibu dan warga telah lama siaga menunggu. Dalam situasi darurat di mana kebutuhan pokok yang mendesak berbenturan dengan persediaan yang terbatas, gesekan kecil kerap tak terhindarkan. Neurosains berkata, bahwa gesekan (baca: konflik) ini terjadi karena para penyintas krisis air bersih sedang berada dalam mode survival, di mana otak reptil menjadi lebih aktif guna memenuhi kebutuhan yang tidak bisa diganti, apalagi kalau bukan air.
Jarot pernah menghadapi situasi pelik ketika warga saling berebut jatah air. Pernah ada celah ketidakadilan, di mana satu keluarga memborong hingga 10 ember, sementara warga lain di sudut berbeda hanya kebagian 2 ember. Kondisi yang timpang ini memicu rasa tidak adil dan kesan “rakus” di antara sesama warga yang sama-sama tengah berjuang mengais air bersih.
Di sinilah letak kedewasaan seorang relawan diuji. Dengan pendekatan yang sabar namun tegas, Jarot harus memastikan bahwa proses distribusi air berjalan seadil mungkin. Satu tangki penuh itu biasanya harus cermat dibagi rata untuk mencukupi kebutuhan 5 hingga 8 kepala keluarga, bahkan terkadang dipaksakan merata hingga 12 kepala keluarga sekaligus. Di balik kemudi, ia bukan sekadar sopir pengangkut air, ia adalah juru damai yang meredam kepanikan dan emosi warga.
Ketulusan Tanpa Pamrih dan Doa untuk Para Dermawan
Di balik setiap liter air yang disalurkan, Jarot menyadari bahwa apa yang ia lakukan adalah buah dari kolaborasi kebaikan. Sebagian bantuan yang masuk, termasuk dalam bentuk uang tunai, ia kelola untuk menutup biaya operasional harian, mulai dari membeli solar hingga perawatan kendaraan.
Di luar kursi kemudi, Jarot mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah berkontribusi dalam kelancaran distribusi air bersih untuk desa yang mengalami kekeringan, seperti kaliajir, kalitengah, jalatunda dan desa lainnya.
“Terima kasih saya ucapkan kepada donatur yang telah menitipkan sedikit banyak hartanya. Saya sebagai penyalur dan orang yang tidak tega melihat warga kekeringan, mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Semoga semua yang telah diberikan mendapatkan pahala dan balasan yang setimpal dari Allah Subhanahu wa ta’ala,” tukas Jarot
Sosok Jarot mungkin bukan setenar pejabat publik, bukan pula pesohor yang menghiasi layar kaca. Namun di mata para ibu yang kini bisa memasak dan mencuci keesokan harinya, Jarot adalah jawaban dari doa-doa panjang mereka di tengah kemarau yang menjadikan air sebagai barang mewah.
Baca Juga: Milad ke-45 Klinik Utama PKU Muhammadiyah Merden : Seruan Memetik Nilai Perjuangan
Jarot telah menjadi bukti, tidak perlu menunggu tenar untuk membantu masyarakat, ada banyak cara untuk membantu penghidupan sesama manusia. Karena manusia diciptakan unuk saling peduli dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
Kontributor: Dhimas Raditya Lustiono
*Proses penulisan dibantu oleh Akal Imitasi



