Merden – Dalam upaya mencetak generasi pandu yang tangguh dan religius, Pondok Pesantren Modern (PPM) Daarul Falaah Muhammadiyah Merden menggelar kegiatan Perkemahan Hizbul Wathan (HW). Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Ahad, 17–19 April 2026, bertempat di Lapangan Desa Merden dan lingkungan sekitar pesantren.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh santri dengan tujuan membentuk karakter pandu yang berakhlak mulia, mandiri, disiplin, serta bertanggung jawab berdasarkan nilai-nilai Islam. Pelaksanaan kemah tahun ini terasa lebih spesial dengan hadirnya Dewan Sugli Daerah (DSD) yang terjun langsung membantu pendampingan teknis dan penguatan materi kepanduan bagi para peserta.
Dalam apel pembukaan, Mudir PPM Daarul Falaah, Ustaz Ifad Zain Azhar , menekankan pentingnya tiga pilar kesuksesan yakni disiplin, takwa dan aksi nyata dalam kemanusiaan.
“Disiplin tanpa batas, taqwa tanpa henti, dan berkhidmat kemanusiaan dengan aksi nyata adalah kunci kesuksesan generasi saat ini,” tegas beliau.
Ia menambahkan bahwa Kemah HW ini bukan sekadar rekreasi, melainkan latihan ketahanan fisik, mental, dan spiritual sebelum nantinya para santri terjun ke masyarakat.
Ustaz Ifad memandang, Hizbul Wathan (HW) dapat dipandang sebagai sarana untuk membina generasi yang berakhlak mulia, berakidah kuat, dan berkarakter Islami sesuai dengan prinsip kepanduan Muhammadiyah. Dengan dilaksanakanya Jambore Hizbul Wathan dapat melatih santri untuk tidak takut susah, mandiri, dan bertahan dalam kondisi terbatas.
Selain itu program tersebut sangat efektif dalam meningkatkan disiplin, keberanian, kerja sama tim, dan kepemimpinan santri. Saya berharap kegiatan ini dapat dilaksanakan secara rutin setiap tahunnya sebagai langkah strategis dalam pembentukan karakter generasi muda, khususnya di lingkungan sekolah dan/atau pesantren Muhammadiyah.
Simulasi Kebencanaan yang Emosional
Salah satu agenda yang paling menyedot antusiasme adalah materi Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) dan simulasi kebencanaan dari MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center). Meski awalnya direncanakan dengan skenario situasi gawat darurat di Gaza, simulasi kali ini difokuskan pada penanganan bencana gempa bumi.

Suasana di Lapangan Desa Merden mendadak berubah menjadi haru dan syahdu saat sirine ambulans LazisMu meraung-raung di tengah skenario. Para santri yang berperan sebagai masyarakat sipil bermain peran dengan semangat totalitas; mereka menangis di tengah reruntuhan puing, riasan luka yang tampak nyata, tangan patah, hingga simulasi korban jiwa. Di sisi lain, tim kesehatan dari santri yang telah terlatih menunjukkan kecakapan luar biasa dalam melakukan evakuasi dan pertolongan pertama pada korban, seolah mereka berada di medan bencana yang sesungguhnya.
Mandat Al-Aqsa untuk Kader HW
Tak kalah inspiratif, sesi ideologi kepanduan diisi dengan materi Tauhid Perjuangan bertajuk *“Dari Tauhid Menuju Tahrir: Mandat Al-Aqsa untuk Kader Hizbul Wathan”. Dalam sesi ini, sejarah panjang Al-Aqsa sebagai kiblat pertama dan bangunan kedua di muka bumi dikupas tuntas, mulai dari peristiwa nabi mengimami para rasul, kepemimpinan Umar bin Khattab dan Shalahuddin Al-Ayyubi, hingga perjuangan Syekh Ahmad Yasin.
Sesi ini menjadi momen paling mengharukan, saat peserta menonton video documenter tentang kondisi terkini di Gaza, isak tangis peserta pecah melihat tayangan tentang kelaparan, pengeboman, hingga syahidnya tim medis saat bertugas. Materi ini kemudian ditutup dengan Focus Group Discussion (FGD) yang merumuskan lima jalur perjuangan: Jalur Intelektual, Jihad Digital, Diplomasi Humanitarian, Literasi Kreatif, dan Jalur Pendidikan.
Dalam FGD tersebut, *Regu Al-Aqsa* menjadi salah satu presentasi terbaik. Mereka mengusulkan inovasi literasi sejarah yang diadaptasi untuk Generasi Z melalui konten media sosial. “Kami ingin riset-riset sejarah ini dibungkus dengan video pendek atau carousel tipis-tipis di TikTok agar lebih mudah diterima sebelum nantinya mereka mendalami buku-buku tebal,” papar salah satu anggota regu dengan antusias.

Ketangkasan Fisik
Keseruan berlanjut pada sesi jelajah alam yang menampilkan yel-yel kreatif dan kedisiplinan PBB. Para peserta juga ditantang melalui kegiatan fisik yang akrab seperti push-up di sungai dan tradisi unik saling membersihkan gigi teman menggunakan jari sebagai bentuk keakraban. Puncaknya, kegiatan outbound meniti tali menguji keberanian peserta, di mana meski banyak yang hampir terjatuh, seluruh santri berhasil melewatinya dengan penuh tawa dan kebahagiaan.
Istiqomah Menjaga Kedisiplinan
Pada Apel Penutupan, Ketua Panitia sekaligus perancang acara, *Faiz Albar Darmawan,*, memberikan pesan mendalam. Ia menekankan agar kedisiplinan dan ketakwaan tidak menjadi “hangat-hangat tahi ayam,” melainkan harus terus dijaga di mana pun berada.
“HW kali ini adalah inovasi baru. Kita tidak hanya menyiapkan kader yang tangguh fisik, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu tentang kepalestinaan. Kita menyiapkan generasi Tahrir Al-Aqsa (pembebas Al-Aqsa) sejak hari ini,” tegasnya.
Baca Juga: PCNA Purwareja Klampok Gelar MUSYCAB. S Lis Ir-Rikhana Wish Terpilih Menjadi Ketua PCNA
Beliau juga menyampaikan harapannya untuk menyelenggarakan simulasi ulang dengan skenario darurat Al-Aqsa yang lebih lengkap, mulai dari peralatan medis hingga sinematografi profesional. Hal ini bertujuan sebagai syiar agar masyarakat luas memiliki kesadaran pentingnya memahami Ke-Palestinaan sebagai bagian dari Tahuhid Perjuangan dan memahami bahwa liberation of mind (pembebasan pikiran) harus terjadi sebelum liberation of land (pembebasan tanah).

Dengan semangat “Berkhidmat Kemanusiaan”, PPM Daarul Falaah Muhammadiyah Merden berharap perkemahan ini menjadi pemantik bagi para santri untuk menjadi kader yang siap menolong sesama dalam kondisi apa pun, berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan Ilmu-Ilmu Pengetahuan.
Kontributor: Faiz Albar D
Editor: Dhimas



