Sosialisasi Sitama dalam Rakorda MT BNA 2026, Sinyal Positif Regenerasi Pendakwah

Ditulis oleh Majelis Tabligh

22 April 2026

Di tengah dinamika dakwah yang terus berubah, Majelis Tabligh PDM Banjarnegara menginisiasi rapat koordinasi daerah. Acara yang berlangsung pada hari Ahad tanggal 19 April 2026 di gedung dakwah Istiqomah terselenggaran dengan sukses. Hal ini bisa dilihat dari animo peserta yang hadir meliputi hampir seluruh perwakilan MT cabang yang ada. Selain itu ada pula peserta tambahan yang tergabung dalam Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) daerah.

Jika ditinjau dari demografi peserta yang hadir bukan hanya dari kalangan senior. Tidak sedikit pula generasi muda yang turut duduk membaur. Hal ini menandakan ada sinyalemen positif dalam hal regenerasi penggerak dakwah di level akar rumput.

Meskipun demikian, kesatuan langkah dakwah antara MT PDM dan MT cabang perlu disinkronisasikan. Dalam hal ini ketua MT PDM Banjarnegara dalam sambutannya mengajak seluruh peserta yang hadir untuk menyatukan visi. Selain itu beliau juga menekankan ajakan agar para alumni Sekolah Tabligh lebih diberdayakan baik dalam bidang kajian maupun masuk ke dalam struktur kepengurusan. Terlebih, setelah kepengurusan KMM daerah secara resmi terbentuk maka seharusnya diikuti oleh MT di tingkat cabang untuk membentuk KMM di wilayanya.

Kriteria Mubaligh yang bisa masuk jejaring KMM adalah mereka yang aktif berdakwah di masyarakat. Mubaligh tersebut juga tidak hanya dari pengurus MT semata, bisa juga berasal dari anggota persyarikatan yang aktif sebagai Khatib, Penceramah, Penyuluh, atau bahkan Guru Ngaji di TPQ.

Mengingat amanat besar dari  MT PWM Jawa Tengah dalam hal pendataan mubaligh, maka dalam kesempatan tersebut juga dikenalkan Sitama, sebuah sistem informasi khas MT yang merekam jejak peran mubaligh di seluruh Indonesia beserta data kemasjidan yang menjadi garapannya.

Secara umum memang ada tiga tipikal masjid.

Pertama, masjid yang secara struktural resmi milik Muhammadiyah.

Kedua, masjid milik umum tetapi secara kultural bernafaskan Muhammadiyah.

Ketiga masjid yang pengurusnya bukan warga Muhammadiyah tetapi ada mubaligh Muhammadiyah di dalamnya.

Dari ketiga kategori di atas, pendataan masjid tipe pertama perlu divalidkan kembali dan ini menjadi tugas KMM di masing-masing wilayah. Apalagi dengan banyaknya jumlah mubaligh dan majelis ilmu yang sudah berjalan di level akar rumput, maka tugas pendataan tidak mungkin dilakukan sendiri oleh KMM daerah.

Di lain pihak sebagai tindak lanjut tugas utama KMM yang berupa melakukan pendataan, pembinaan, dan pendelegasian mubaligh maka dalam forum tersebut juga dimafaatkan untuk mensosialisasikan Sitama. Sitama sendiri adalah aplikasi yang dikembangkan oleh MT pusat yang mencatat sebaran mubaligh di seluruh Indonesia. Sosialisasi ini penting agar para mubaligh di semua tingkatan sampai ke pelosok desa bisa tercatat secara terpusat. Sehingga data mubaligh bisa terpantau secara real time.

Baca Juga: Siap Berdakwah!, Mahasiswa Sekolah Tabligh Banjarnegara Ikuti Wisuda Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah

Sejatinya pengisian data di Sitama bisa dilakukan secara mandiri. Akan tetapi dalam hal teknis ada beberapa kendala yang biasanya akan dihadapi. Hal ini lah yang kemudian disosialisasikan oleh admin KMM daerah dan kemudian dipraktikkan dalam kegiatan tersebut. Mengingat keterbatas waktu yang ada, maka tidak semua kendala bisa diselesaikan di tempat, meskipun demikian animo peserta patut diapresiasi. Banyak diantara yang hadir mencoba mendaftar lewat gawai pribadinya masing-masing meski akhirnya tetap mengalami kebuntuan. Untuk itulah admin daerah memberikan beberapa catatan sekaligus membuka konsultasi lanjutan agar ke depannya semakin banyak mubaligh tercatatkan namanya di Sitama.

Mungkin Anda Suka