Anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus dijaga, dibimbing, dan dididik dengan penuh kasih sayang. Dalam proses tumbuh kembangnya, anak memiliki kondisi emosi (mood) yang tidak stabil. Kadang mereka ceria, kadang mudah marah, sedih, dan sering rewel.
Dalam Islam, menjaga kondisi psikologis anak merupakan bagian dari tanggungjawab kedua orang tua. Suasana hati anak yang baik akan memudahkan dalam proses pendidikan, penanaman akhlak, serta pembentukan kepribadian yang sholeh dan sholeha.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
(QS. At-Tahrim: 6)
Ayat ini menjelaskan bahwa menjaga keluarga termasuk anak bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan emosional.
Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh kedua orang tua supaya mood anak tetap baik dan stabil, antara lain :
Pertama, memberikan kasih sayang dan perhatian
Kasih sayang dari orang tua adalah kunci utama dalam menjaga mood anak tetap stabil. Anak yang merasa dicintai dan diperhatikan cenderung lebih stabil emosinya. Bentuk kasih sayang orang tua bukan sekadar memberikan apa yang anak inginkan, misal mainan, uang yang banyak, fasilitas kendaraan dan lain sebagainya. Akan tetapi dengan memberikan waktu kebersamaan, sesekali orang tua menemani anaknya belajar, memberinya nasehat yang baik saat mereka berbuat salah, sehingga mereka akan merasakan kehadiran dan kasih sayang yang nyata dari orang tua.
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam hal ini. Beliau sangat penyayang terhadap anak-anak
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ mencium Hasan bin Ali
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari)
Kedua, tidak terlalu keras dalam mendidik
Sikap kasar dan keras dapat merusak kondisi psikologis anak dan membuat mereka mudah murung bahkan hal yang tidak kita inginkan yaitu anak bisa memberontak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya
(HR. Muslim)
Ketiga, memahami kebutuhan anak
Setiap anak memiliki kebutuhan fisik dan emosional yang berbeda. Misal dalam memenuhi kebutuhan makan, istirahat, bermain, dan perhatian, maka peran kedua orang tua sangat penting untuk memahami kebutuhan setiap anak. orang tua yang bijak akan memberikan sesuatu yang anak butuhkan tanpa diminta, bukan selalu mengabulkan keinginan anak. karena kebutuhan beda dengan keinginan.
Keempat, memberikan waktu bermain
Bermain adalah dunia anak, orang tua yang sering melarang anaknya dengan kasar atau suara yang keras saat anaknya ingin bermain tentu dapat membuat anak tertekan.
Rasulullah ﷺ pernah membiarkan cucunya bermain bahkan saat beliau shalat.
Dalam sebuah riwayat:
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّي فَإِذَا سَجَدَ رَكِبَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ ظَهْرَهُ
Nabi ﷺ sedang shalat, lalu ketika sujud Hasan dan Husain naik ke punggung beliau
(HR. Ahmad)
Dengan waktu bermain yang cukup, hal ini diharapkan dapat membantu menjaga mood anak agar tetap ceria.
Kelima, memberikan apresiasi dan pujian
Anak membutuhkan penghargaan atas usaha yang mereka lakukan. Kadang orang tua lalai, atau bahkan tidak paham bahwa dunia anak ketika dia berhasil mengerjakan sesuatu butuh apresiasi, butuh pujian yang membuat mereka jadi bahagia dan lebih percaya diri. Misal dengan memberikan ucapan selamat ya, nak, kamu berhasil, dan bisa juga dengan memberinya hadiah. Walaupun mungkin tidak berharga menurut kita, tapi hadiah itu sangat istimewah bagi si anak.
Allah SWT berfirman:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)
(QS. Ar-Rahman: 60)
Keenam, menjadi teladan dalam mengelola emosi
Anak adalah peniru ulung. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Yang pertama kali dilihat anak di dalam rumah adalah kedua orang tua. Maka mood anak sangat bergantung dengan keduanya. Sebisa mungkin kedua orang tua tidak berkata kasar, berkata dengan nada tinggi apalagi bertengkar di depan anak. Rasulullah ﷺ adalah contoh terbaik dalam mengendalikan emosi.
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(QS. Al-Ahzab: 21)
Ketujuh, membiasakan dzikir dan doa
Mengajarkan anak untuk dekat dengan Allah SWT akan membantu ketenangan hati mereka. Dalam setiap amal orang tua harus mengajarkan doa kepada anak. misal setelah menunaikan sholat, sebelum anak kembali dengan aktifitasnya, orang tua membimbing untuk berdoa, kemudian saat anak mau makan, mau tidur, dan seterusnya.
Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Kesimpulan
Menjaga mood anak bukan sekadar supaya mereka tidak rewel, tetapi bagian dari membentuk generasi yang sehat secara mental maupun spiritual. Islam telah memberikan panduan yang sangat detail melalui Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW, dan dari panduan tersebutlah kita bisa meneladaninya.
Dengan penuh kasih sayang, kelembutan, perhatian, serta bimbingan yang benar, InsyaAllah anak akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, ceria, kuat, dan menjadi genarasi yang saleh dan salehah.
Semoga Allah SWT menjadikan anak-anak kita sebagai penyejuk hati.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ
Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati
(QS. Al-Furqan: 74)
Kontributor: Rizqi Mubarok, S.H (Mudir MBS Kalibening, Majelis Tabligh PDM Banjarnegara)
Editor: Dhimas



