Muhammadiyah yang Tidak Hanya Berkemajuan Tetapi Juga Berkesenjangan

Ditulis oleh Dhimas

Seorang Perawat di Klinik Utama PKU Muhammadiyah Merden

4 January 2026

Nama Muhammadiyah memiliki citra yang baik setidaknya di media sosial, bahkan ketika organisasi sebelah sedang bermasalah dengan urusan pemegang tongkat jabatan, Muhammadiyah justru adem karena sangat jarang terdengar berita tentang perebutan kursi jabatan. Namun mari kita soroti sebuah kenyataan tentang pergerakan AUM yang tampak di depan mata, apakah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sudah benar-benar menghidupi Muhammadiyah, atau justru menjadi gengsi persyarikatan di tingkat ranting, cabang, daerah hingga wilayah?

Tentu tidak ada yang salah dengan kata gengsi, apalagi semangat bermuhammadiyah adalah semangat berkemajuan, sehingga AUM baik pendidikan maupun kesehatan, tentu saja harus berpikir tentang ‘bagaimana caranya amal usaha bisa berkembang’, seperti bagaimana caranya menambah fasilitas, menambah gaji/tunjangan Guru, atau sekadar mengganti kaca jendela kaca yang pecah.

Nyatanya, Muhammadiyah dengan nilai total kekayaan lebih dari Rp. 450 Trilyun, telah berhasil mengantarkan organisasi keagamaan ini berada di posisi keempat sebagai Organisasi Keagamaan terkaya di dunia.

Status tersebut tentu menjadi kebanggaan bagi seluruh warga persyarikatan, baik dari pusat hingga cabang dan ranting. Ribuan Sekolah/Madrasah, Ratusan Perguruan Tinggi dan Ratusan Rumah Sakit/Klinik tersebar di seantero Indonesia. Namun rupanya ada satu hal yang sangat tampak di depan mata, yakni kesenjangan antar AUM, di mana setiap AUM memiliki progres perkembangan yang berbeda, ada yang melesat bak peluncuran roket, ada yang pelan tapi pasti, ada pula yang tetap berjalan walau napas terengah-engah.

Hal ini seakan menunjukkan bahwa kekayaan Muhammadiyah memang tidak diperuntukkan untuk AUM, kemana harus mengadu jika sebuah SMP Muhammadiyah kesulitan menggaji Guru secara layak minimal nyaris UMK, kemana harus mengadu jika masih terdapat Sekolah/Madrasah Muhamamdiyah justru kesulitan untuk menyelenggarakan ekstrakurikuler Tapak Suci.

Sementara itu, sebagian Kampus Muhammadiyah tidak hanya berkemajuan dengan prestasi dan fasilitasnya, melainkan juga berketinggian dengan bangunan sebanyak lebih dari 5 lantai, tentu saja hal tersebut membuat Mahasiswa yang datang dari Timur Indonesia, harus belajar naik lift agar tidak salah menekan tombol.

Namun, kita juga tidak bisa menutup mata, bahwa faktanya tidak semua AUM memiliki keseragaman dalam hal penggajian karyawan, bahkan mirisnya ada karyawan AUM berkualifikasi sarjana, justru dipaksa ikhlas dengan gaji yang tidak lebih banyak daripada tukang parkir liar lulusan SD.

Keluhan perihal gaji yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dan undangan kondangan, sering mendapatkan kalimat penghibur seperti “hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”, namun sekali lagi, jika mata kita masih tertutup, cobalah buka mata hati dan pikiran kita, bukankah sebelum menghidupi Muhammadiyah, ada dapur yang harus dihidupi, ada token listrik yang harus dibayar, dan ada undangan kondangan yang perlu didatangi.

Kesenjangan ini sangat tampak hingga hari ini, atau mungkin sampai nanti Muhammadiyah menjadi Organisasi Keagamaan Terkaya nomor 1 di dunia.

Lantas bagaimana upaya agar kesenjangan ini bisa dimitigasi? Setidaknya agar karyawan AUM bisa menjadi kader yang tidak sekadar bekerja, tetapi juga terlibat dalam pergerakan dakwah.

Sayangnya, mencari upaya dalam menangangi kesenjangan ini merupakan hal yang tidak semudah menghafal Mars Sang Surya. Karena dalam bermuhammadiyah, yang dibutuhkan tidak hanya doa dan pemikiran, tetapi juga dukungan materiil.

Mari kita tengok kisah Kiai Dahlan saat mengalami kesulitan dalam menggaji Guru dan Karyawan di Sekolah Muhammadiyah. Saat itu Kiai Dahlan memukul kentongan hingga membuat warga berdatangan, rupanya Kiai Dahlan hendak melelang seluruh barang di rumahnya, karena ia membutuhkan uang sebanyak 500 gulden.

Setelah lelang berlangsung, Kiai Dahlan berhasil mengumpulkan 4000 gulden, tetapi barang yang sudah dibayar oleh warga yang datang, justru kembali ke tangan Kiai Dahlan, sehingga Kiai Dahlan tidak kekurangan satupun barang pribadinya.

“Saya hanya butuh 500 gulden, ini ada 4000 gulden, lalu sisanya bagaimana?” tanya Kiai Dahlan kepada warga.”

“Sisanya masuk kas Muhammadiyah saja,” jawab salah satu orang yang mengikuti lelang tersebut.

Baca Juga: Jangan Asal Ngonten: Viral Bisa Jadi Dosa Jariyah

Hal ini tentu menunjukkan, bahwa semangat bermuhammadiyah adalah semangat kolektif, Muhammadiyah bukanlah milik pimpinan, tetapi adalah milik seluruh warga persyarikatan, di mana jabatan pimpinan hanyalah Amanah, bukan jalan untuk memperkaya diri dengan “kepemilikan saham” di tubuh persyarikatan.

Muhammadiyah menjadi kaya tidak dalam waktu semalam, Muhammadiyah menjadi kaya karena kepedulian para kader terhadap pergerakan dakwah dan aktifitas sosial seperti kesehatan, pendidikan dan sektor lainnya.

Sehingga kesenjangan yang terjadi di tubuh AUM Muhammadiyah boleh jadi bukan karena ketiadaan uang, namun pertanyakan juga tentang kepedulian warga persyarikatan terhadap pergerakan Muhammadiyah baik di tingkat cabang ataupun ranting.

Mungkinkah kesenjangan yang terjadi bukan karena perbedaan jumlah kekayaan saldo di tiap cabang atau ranting, tetapi lebih kepada kesenjangan tentang kepedulian Warga Muhammadiyah terhadap pergerakan dakwah persyarikatan di berbagai sektor.

Kontributor: Dhimas Raditya Lustiono, S.Kep

Editor: Dhimas

Mungkin Anda Suka

Keutamaan Peran Seorang Ibu

Keutamaan Peran Seorang Ibu

Jika seorang ayah adalah pemimpin dan nakhoda kapal rumah tangga, seorang ibu adalah pelabuhan dan madrasah pertama...