Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah merupakan sebuah terobosan besar yang patut diapresiasi . Program ini bertujuan untuk memastikan tidak ada anak didik yang belajar dalam keadaan lapar, sekaligus menjamin kecukupan asupan gizi terutama protein sebagai fondasi dalam ikhtiar menyongsong Indonesia Emas 2045.
Pendahuluan: Visi Besar untuk Generasi Emas
Visi ini relevan dengan fakta bahwa masalah gizi anak masih menjadi tantangan nasional. Berbagai laporan menunjukkan bahwa kekurangan zat besi, dan asupan protein yang tidak seimbang masih dijumpai pada anak usia sekolah, khususnya di wilayah pedesaan dan keluarga pra-sejahtera. Dalam konteks inilah MBG hadir sebagai upaya strategis dari negara untuk memastikan kualitas gizi anak Indonesia.
Di MI Muhammadiyah Kecepit, kami memandang MBG bukan sekadar program bantuan, melainkan bagian dari ikhtiar kolektif dalam menunjang upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, madrasah kami berdiri sepenuhnya mendukung keberlangsungan program ini.
Sisi Terang: Lebih dari Sekadar Makan Siang
Fakta yang saya temui ternyata dampak positif program MBG mulai terasa nyata. Program ini bukan hanya tentang pembagian makanan, tetapi juga menjadi ruang persemaian adab dan karakte siswa ketika menerima makanan.
Secara ilmiah, kecukupan gizi terbukti berpengaruh langsung terhadap konsentrasi, daya ingat, dan stamina belajar anak. Anak yang sarapan dan makan siang dengan komposisi gizi seimbang cenderung lebih fokus dan tidak mudah lelah saat mengikuti pembelajaran.
Di madrasah kami, siswa kembali dibiasakan mencuci tangan sebelum makan, berdoa sebelum dan sesudah makan, mengantre dengan tertib, serta merapikan wadah makanan. Bagi siswa dari keluarga pra-sejahtera, MBG menjadi berkah yang nyata karena turut meringankan beban ekonomi keluarga. Kami menyaksikan keceriaan siswa saat menikmati hidangan bersama sebuah momentum sederhana namun bermakna dalam memperkuat ukhuwah di lingkungan madrasah.
Dilema Realita: Higienitas dan Beban Operasional
Sebagai bentuk tanggung jawab moral, kami merasa perlu menyampaikan beberapa catatan evaluatif demi penyempurnaan pelaksanaan program.
Pertama, terkait kualitas dan higienitas makanan. Standar keamanan pangan anak sekolah menuntut bahan makanan bersih, segar, dan diolah secara higienis, karena sistem pencernaan anak masih relatif sensitif. Masukan dari wali murid mengenai kebersihan sayuran termasuk temuan organisme kecil seperti serangga, hal ini tentu menjadi alarm penting bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar memperketat kontrol kualitas, karena bagaimanapun juga kepercayaan orang tua merupakan fondasi utama keberlanjutan program ini di lingkungan sekolah.
Kedua, adanya beban kerja tambahan bagi para pendidik. Guru yang semula fokus pada kegiatan belajar mengajar (KBM) kini juga harus mengawasi distribusi makanan, mengelola sampah, hingga melakukan pendataan terkait konsumsi gizi harian. Dalam praktiknya, setiap sesi makan dapat menyita waktu 30–45 menit, yang jika tidak dikelola dengan baik akan berdampak pada berkurangnya jam efektif pembelajaran. Kondisi ini tentu menuntut fleksibilitas kegiatan belajar mengajar tanpa mengorbankan mutu pendidikan.
Refleksi Anggaran: Menjaga Keseimbangan Perut dan Otak
Dari pelaksanaan program ini, muncul pula refleksi terhadap anggaran yang patut direnungkan bersama. Alokasi MBG sebesar Rp15.000 per siswa per hari menunjukkan keberpihakan negara yang kuat pada pemenuhan gizi anak.
Namun, angka tersebut terasa kontras jika dibandingkan dengan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang rata-rata berada di kisaran Rp4.000–Rp5.000 per siswa per hari, yang harus mencakup berbagai kebutuhan: pembelajaran, perawatan sarana, administrasi, hingga dukungan kesejahteraan tenaga pendidik non-ASN.
Ketimpangan ini memicu reaksi yang sarat akan ketimpangan keberpihakan, terutama jika dikaitkan dengan kesejahteraan guru honorer atau tenaga wiyata bakti yang telah mengabdi bertahun-tahun dengan honor yang dalam banyak kasus masih berada di bawah standar kebutuhan hidup layak daerah. Padahal, berbagai kajian pendidikan menunjukkan bahwa kesejahteraan guru akan berbanding lurus dengan stabilitas kinerja dan kualitas pembelajaran.
Harapannya, semangat pemerintah dalam menyediakan “gizi” bagi peserta didik juga menular pada “peningkatan gizi” bagi institusi pendidikan itu sendiri, sehingga tidak ada Guru yang mengalami kesulitan membayar kebutuhan dapur pribadinya.
Menuju Solusi Berkelanjutan
Kami tidak ingin program mulia ini terhenti. Sebaliknya, kami berharap MBG dapat terus tumbuh menjadi sistem yang semakin disempurnakan. Berikut ini beberapa langkah solusi yang dapat dipertimbangkan demi perbaikan kualitas program MBG :
- Sinergi Kontrol Kualitas
Pengawasan makanan berbasis kolaborasi antara madrasah, komite,dan SPPG melalui evaluasi rutin dan jalur pelaporan yang jelas.
- Integrasi Adab dan Karakter
Menempatkan waktu makan sebagai bagian dari pendidikan karakter dan pembiasaan hidup bersih dan sehat.
- Keseimbangan Kesejahteraan
Menjadikan MBG sebagai momentum refleksi kebijakan untuk menata ulang dukungan terhadap madrasah swasta dan guru honorer.
Penutup
Membangun bangsa adalah kerja kolektif yang menuntut keseimbangan. Dengan perut yang kenyang, anak-anak kita akan tumbuh lebih kuat secara fisik. Namun dengan Guru yang sejahtera dan madrasah yang didukung secara memadai, para siswa akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih cerdas secara akal dan lebih mulia dalam akhlak.
Mari kita kawal bersama program MBG agar benar-benar menjadi berkah bagi semua pihak: siswa, orang tua, guru, dan institusi pendidikan.
Semoga rangkaian aksara ini menjadi wasilah demi perbaikan pelaksanaan program MBG di seluruh wilayah Indonesia.



