Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan dan Peran IPM dalam Society 5.0Dunia saat ini berkembang dengan sangat cepat, terutama kemajuan teknologi yang membuat setiap koneksi menjadi terhubung tanpa batas. Society 5.0 atau masyarakat 5.0 merupakan sebuah konsep yang dicetuskan oleh pemerintah Jepang.
Ide ini beranggapan bahwa revolusi umat manusia tidak hanya terbatas pada faktor manufaktur tetapi juga kemampuan memecahkan masalah sosial dengan bantuan integrasi ruang fisik dan virtual (Skobelev & Borovik, 2017).
Muhammadiyah sebagai sebuah Gerakan Pembaharuan tentunya sudah membaca perkembangan ini jauh-jauh hari. Bagi Muhammadiyah, era ini bukan sekadar tantangan teknis, melainkan pembuktian bagi gagasan besar yaitu Islam Berkemajuan. Salah satu hal penting yang perlu kita bahas adalah Kosmopolitanisme. Mengapa? Karena di era Society 5.0, seorang kader tidak cukup hanya saleh secara ritual di masjid-masjid saja, tetapi juga harus mampu menjadi warga dunia (global citizen) yang dapat menebar manfaat. Disinilah peran kita sebagai kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah diperlukan, untuk mewujudkan cita-cita Islam sebagai rahmat bagi alam semesta di era tanpa batas ini.
Kosmopolitanisme: Bukan Sekadar Gaya Hidup, Tapi Karakter
Immanuel Kant mengungkapkan bahwa “kosmopolitan sangat menjunjung tinggi moral di mana semua manusia harus memiliki saling pengertian.” Seseorang yang memiliki pemikiran kosmopolitanisme dalam bentuk apapun disebut kosmpolitan atau kosmopolit. Sehingga kosmopolitanisme adalah ideologi yang menyatakan bahwa semua suku bangsa manusia merupakan satu komunitas tunggal yang memiliki moralitas yang sama (Pertivi, 2016).
Dalam konteks muhammadiyah, kosmopolitanisme dipahami sebagai implementasi nilai Rahmatan lil ‘Alamin. K.H Ahmad dahlan telah memberikan contoh nyata bagaimana menjadi seorang kosmopolitan. Beliau berhaji, belajar ke Timur Tengah, namun juga tidak segan mengadopsi sistem pendidikan sekolah modern dan metode medis Barat demi kemajuan bangsa. Perilaku seperti ini merupakan wujud dari semangat kolaborasi dan kebermanfaatan serta merangkul semua lapisan golongan. Semangat inilah yang harus ditarik ke abad 21. Di era Society 5.0, kosmopolitanisme kader Muhammadiyah, khususnya pelajar, harus terwujud dalam kemampuan beradaptasi dengan kemajuan teknologi tanpa kehilangan kompas moral.
Muhammadiyah dan IPM di Tengah Pusaran Society 5.0
Saat ini dengan kondisi dimana teknologi dan kehidupan manusia sudah tidak bisa dipisahkan, Muhammadiyah dan IPM harus menjadi pemimpin di baris paling depan dengan membawa semangat “warga dunia” atau kosmopolitan. Semangat ini artinya kita harus punya pikiran yang terbuka, mau belajar hal baru dari mana saja, tapi tetap memegang teguh nilai-nilai kebaikan. IPM tidak boleh hanya jadi penonton di tengah pesatnya perubahan zaman; kader-kader muda harus cepat beradaptasi dengan teknologi seperti kecerdasan buatan dan internet, namun tetap menggunakannya untuk membantu sesama dan menyelesaikan masalah sosial. Dengan menggabungkan kecanggihan teknologi dan kepedulian terhadap kemanusiaan, Muhammadiyah dan IPM bisa memastikan bahwa kemajuan zaman ini benar-benar membawa manfaat bagi semua orang tanpa membuat kita kehilangan jati diri.
Manifestasi Gerakan IPM 5.0: Strategi ke Depan
Menghadapi berbagai peluang dan tantangan di masa depan tentunya memerlukan strategi. Utamanya terkait apa yang bisa kita lakukan sebagai kader IPM untuk menghadapi era Society 5.0. Berikut adalah strategi utama yang dapat dilakukan oleh pelajar,
1. Pelajar Berdaulat Digital: IPM harus mendorong kadernya bukan hanya menjadi konsumen, tetapi kreator konten yang mengusung nilai-nilai kebaikan. Gerakan literasi digital bukan lagi sekadar cara mengoperasikan gawai, melainkan cara menyaring informasi dan memproduksi narasi positif untuk melawan arus hoaks.
2. Inovasi Sosial Berbasis Komunitas: Society 5.0 menuntut solusi nyata. IPM di tingkat Ranting atau Cabang dapat menginisiasi proyek kecil seperti “Rumah Literasi Digital” untuk mengedukasi lingkungan sekitar tentang etika berinternet dan pemanfaatan teknologi untuk ekonomi kreatif.
3. Advokasi Pelajar yang Inklusif: Sejalan dengan jiwa kosmopolitan, IPM harus hadir membela hak-hak pelajar secara luas. Isu-isu seperti cyber-bullying, kesehatan mental, dan akses pendidikan yang merata bagi pelajar difabel menjadi agenda utama kebijakan publik IPM. Hal ini adalah bentuk nyata dari dakwah kemanusiaan.
4. Global Networking: Kader IPM harus berani menjalin kolaborasi dengan organisasi internasional atau mengikuti forum pelajar dunia. Ini adalah cara praktis untuk melatih mentalitas kosmopolitan tetap bangga dengan identitas kader, namun rendah hati untuk belajar dari kemajuan bangsa lain.
Penutup: Menebar Rahmat di Semesta Digital
Society 5.0 adalah ladang amal baru. Kosmopolitanisme Islam Berkemajuan memberi kita sayap untuk terbang tinggi merangkul dunia, sementara nilai-nilai Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi akar yang menjaga kita tetap teguh pada identitas.
Bagi IPM, Society 5.0 adalah momentum untuk membuktikan bahwa “Pelajar Berkemajuan” bukan hanya sekedar slogan di atas kertas. Ia adalah panggilan untuk menjadi generasi yang tangguh secara iman, unggul secara intelektual, dan mampu menembus batas-batas dunia dengan karya nyata. Menjadi kosmopolitan berarti menyadari bahwa dimanapun kita berada, di ruang fisik maupun digital, misi kita tetap sama yaitu menjadi Rahmatan lil ‘Alamin, rahmat bagi semesta alam.
Daftar Pustaka
Pertiwi, L. A. (2016). Analisa perspektif Islam dan kosmopolitanisme terhadap upaya global penanganan pengungsi Suriah. JISIERA: The Journal of Islamic Studies and International Relations, 1(Agustus), 1-13. http://jisiera.insiera.org/index.php/jisiera/article/view/012016/2
Skobelev, P., & Borovik, Y. S. (2017). On the way from Industry 4.0 to Industry 5.0: From digital manufacturing to digital society. International Scientific Research Journal «Industry 4.0», (6), 307-311.
Kontributor : Muhammad Ghozyan Al Wafi
Editor: Dhimas



