KARANGKOBAR – Memasuki sepuluh hari kedua bulan Ramadan, KH Wahyudin kembali mengisi kultum pagi di Masjid Al Ishlah Kauman Leksana, Karangkobar, Senin (2/3/2026).
Kegiatan diawali dengan sholat Subuh berjamaah, kemudian dilanjutkan dengan kuliah pagi yang diikuti jamaah dengan khidmat. Dalam pengantarnya, KH Wahyudin menyinggung situasi konflik di Timur Tengah yang belakangan memanas.
Ia menyampaikan bahwa umat Islam yang tidak memiliki daya dalam hal teknologi dan persenjataan, tetap memiliki kekuatan besar melalui pengamalan Islam yang damai dan penuh kasih sayang.
“Kita mungkin tidak punya kekuatan senjata, tetapi kita bisa mengamalkan Islam yang tentram, Islam yang saling mengasihi,” ujarnya.
Lima Identitas Ramadan
Dalam tausiyahnya, KH Wahyudin memaparkan lima identitas utama bulan Ramadan.
Pertama, Syahrush Shiyam atau bulan puasa. Puasa bermakna imsak, yakni menahan diri sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Di sinilah letak latihan pengendalian diri yang sangat dibutuhkan setiap Muslim.
Kedua, Syahrul Qiyam, bulan di mana umat Islam berbondong-bondong mendirikan sholat malam. Di bulan Ramadan, qiyam itu dikenal dengan sholat Tarawih.
Ketiga, Syahrul Qur’an, bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pembeda antara yang hak dan batil. Semangat membaca dan mentadarus Al-Qur’an pun meningkat tajam di bulan suci ini.
Keempat, Syahrush Shodaqoh, bulan sedekah. Ia mengingatkan bahwa Rasulullah dikenal sangat dermawan, terlebih saat Ramadan, laksana angin yang berhembus memberi kesejukan.
Kelima, Syahrud Doa, bulan doa. Ia menekankan ada tiga doa yang tidak tertolak: doa pemimpin yang adil dan melayani rakyatnya, doa orang yang berpuasa hingga berbuka, serta doa orang yang didzalimi.
Kultum pagi tersebut menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum membentuk pribadi yang lebih sabar, dermawan, dan dekat dengan Allah SWT.



