Dalam suasana pagi yang cerah, teranggal 30 Dzulqa’dah 1447 H atau bertepatan dengan 17 Mei 2026, satu persatu hadirin berdatangan di Pusdamu. Ada yang datang sendiri, berdua, dan ada juga rombongan kecil meski tak seberapa. Bajunya pun beragam, ada yang berpakaian dinas bekombinasi dengan jas, ada yang memilih baju kasual nan bebas, ada pula yang kompak mengekspresikan jati dirinya. Seperti mayoritas jamaah ‘Aisyiyah dengan bajunya yang begitu cerah.
Di depan pintu gedung, panitia dan petugas yang sedari awal sudah datang terlebih awal, tampak makin sibuk saja menyambut dan menjamu para tamu. Tak lupa pula tegur sapa terlontarkan penuh rasa kekeluargaan disertai dengan senyum penuh kebahagiaan. Suasananya benar-benar hangat. Bahkan meski dalam keseharian sudah biasa bersua, tetap saja pertemuan itu laksana handai taulan yang sudah lama berpisah kemudian dipertemukan kembali dalam bingkai persaudaraan.
Hingga tak terasa, jam digital di dalam gedung sudah menunjukkan pukul sembilan kurang 10 menit. Suara pembawa acara dengan nada yang tersusun rapi terdengar menggema. Para hadirin pun sebagian besar mulai beralih perhatian kepadanya.
Secara resmi memang acara belum dimulai. Akan tetapi, pihak tuan rumah dari PRM Kauman sudah menyiapkan agenda perhelatan sedemikian rupa. Ada hiburan, seremoni, dan acara inti.
Sebagai pembuka, pukulan gendang begitu rancak terdengar. Hal itu diikuti oleh suara merdu lagu islami yang dipersembahan oleh santriwati ponpes modern Cahaya Quran. Begitu elok dinikmati karena bermula dari persembahan sepenuh hati. Tidak hanya satu lagu, dua lagu berurutan dengan indah jadi menambah hangat suasana yang ada.
Kemudia tepat pukul 09.00, sang pembawa acara mulai berimprovisasi. Tutur katanya sangat fasih namun juga tertata. Dengan menyebut keagungan Yang Maha Kuasa, ia secara resmi menggiring acara menuju tujuan utamanya.
Seperti biasa, untuk membangkitkan semangat bernegara dan berorganisasi, semua hadirin berdiri menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Sang Surya. Lagu mars Aisyiyah juga tak luput dinyanyikan bersama. Sontak saja hingga akhir musik pengiring berbunyi, nada sopran jamaah terdengar bergemuruh mendominasi suara yang ada.
Selepas itu, ketua PRM Kauman diberi kuasa untuk menyampaikan sepatah dua kata. Bukan hanya rasa terimakasih dan permohonan maaf yang diucap. Beliau juga mengingatkan bahwa selain kesalehan pribadi dalam urusan ibadah, warga Muhammadiyah seyogyanya mampu meniru kitab warisan KH. Ahmad Dahlan berupa amal jam’iyah yang berimbas secara nyata.
Setali tiga uang, ketua PCM sekaligus Muassis Ponpes Modern Cahaya Qur’an, memberikan sebuah gambaran. Bahwa muslim yang hebat bukan mereka yang hebat hanya soal tirakat, tapi mereka yang mampu mengaktualisasikan sisi kerahmatan Islam saat berkhidmat. Bukan soal kesalehan pribadi, tapi juga soal kemampuan beraksi menyelaraskan ilmu dan amal yang dijalani. Bahkan dengan lugasnya beliau menukil kalam ilahi.
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا.
Sebuah ayat agung yang membuat hati siapapun yang mendengar pasti akan terperanjat.
Belum reda hati bergejolak, Ustaz Faiz Albar Darmawan, Lc yang menjadi pengisi taushiah semakin menegaskan. Tidak sama duduknya mereka yang bersantai di rumah, dengan mereka yang mereka duduk dalam rangka jihad dan dakwah. Apalagi masih menurut beliau, perbedaan umat Islam dan dua kaum nabi sebelum Rasulullah SAW terletak pada kesesuaian ilmu dan amal pengikutnya.
Bahkan beliau menukil perkataan sang Hujjatul Islam:
العِلْمُ بِلَا عَمَلٍ جُنُوْنٌ، وَالعَمَلُ بِلَا عِلْمٍ لَا يَكُوْنُ
Ilmu tanpa amal (praktek) adalah kegilaan/kesia-siaan.”
“Dan amal tanpa ilmu itu tidak akan ada gunanya (tidak diterima/tidak sah).”
Pada poin inilah, Ustaz Faiz kemudian melanjutkan taushiah. Beliau seakan menabuh genderang yang membangkitkan juga mengingatkan bahwa hari-hari spesial sudah dekat menjelang. Apalagi, kegiatan berlangsung tepat di penghujung bulan Dzulqa’dah.
Hari-hari yang dimaksud tentu saja sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Serangkaian hari yang kemudian disebut sebagai momen teragung untuk mendulang pahala tak terbatas.
Bagaimana tidak, berlandaskan dua ayat pertama Al-Qur’an surat Al-Fajr yang ditafsirkan Albaghawi dan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhori nomor 969, pasti akan membuat kita terkesima. Sepuluh hari pertama bulan Zulhijah memang memiliki keagungannya tersendiri. Sampai-sampai Allah begitu mencintai segala amal shalih hambanya yang tertunai di masa itu.
Beliau juga menjelaskan bahwa bila di hari biasa amal yang diterima akan membuat hidup pelakunya menjadi lebih baik. Maka amal shaleh di awal Zulhijah bisa naik tingkat jadi amal yang paling dicintai.
Lalu bagaimana mengoptimalkan hari-hari awal bulan Zulhijah? Tentu saja akan beragam sesuai kemampuan. Tapi dalam perspektif Ustaz Faiz perlu dibuat checklist harian. Isinya tidak lain adalah beberapa amal shaleh bernilai ibadah yang terangkum dalam empat hal.
Pertama, Akselerasi shalat terdiri dari shalat wajib berjamaah di masjid tepat waktu, shalat nafilah, dan shalat dhukha.
Kedua, investasi langit lewat jalur memperbanyak tilawah dan rutin bersedekah.
Ketiga, puasa di hari Arafah.
Keempat, Berkurban yang esensinya adalah untuk mendekatkan diri pada Allah dengan mengesampingkan ego dan membunuh nafsu hewaniah dalam dada.
Baca Juga : Ajang Konsolidasi Kerja Antar Majelis Teguhkan Persyarikatan yang Berkemajuan
Apabila keempat hal tersebut bisa dilaksanakan dengan ikhlas, maka amal yang sudah tampak menjadi kebiasaan bisa berubah menjadi amal pengundang cinta dari zat Yang Maha Cinta. Atau bisa dikatakan menjadi puncak kualitas amal tahunan yang bisa kita upayakan.
Wallahu a’lam bisshowab.
Kontributor: MPI PCM Banjar Kota
Editor: Dhimas



