Kuliah Subuh Masjid Al Ishlah. KH Wahyudin: Hati Tenang Jika Kita Mengingat Allah

zikir mengingat Allah

Ditulis oleh LayarMu

12 March 2026

BANJARNEGARA – Masjid Al Ishlah Kauman Leksana, Kecamatan Karangkobar, kembali menggelar kegiatan kuliah subuh usai salat subuh berjamaah. Kali ini, tausiyah disampaikan oleh KH Wahyudin yang mengangkat tema tentang kebahagiaan dalam perspektif Islam.

Di hadapan jamaah, KH Wahyudin mengawali ceramahnya dengan mengingatkan bahwa ketenangan hati hanya dapat diperoleh dengan mengingat Allah.

Ia mengutip pesan Al-Qur’an bahwa dengan mengingat Allah, hati manusia akan menjadi tenang. Menurutnya, ketika seseorang merasa gelisah, buntu menghadapi persoalan hidup, bisa jadi hal tersebut terjadi karena kurangnya dzikir kepada Allah.

“Kalau kita tidak tenang, jangan-jangan zikir kita yang kurang. Ketika kita merasa buntu dan seolah tidak ada solusi, bisa jadi karena kita kurang mengingat Allah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa orang-orang yang selalu mengingat Allah adalah mereka yang berzikir dalam berbagai keadaan, baik saat berdiri, duduk, maupun berbaring. Artinya, ketika seseorang sedang beraktivitas atau bekerja, ia tetap tidak melupakan Allah.

KH Wahyudin menambahkan bahwa dzikir tidak hanya terbatas pada ucapan kalimat-kalimat thayyibah. Mengagumi dan merenungi keindahan ciptaan Allah di sekitar manusia juga merupakan bagian dari mengingat-Nya.

“Ketika lisan kita terbiasa mengucapkan kalimat thayyibah dan hati kita merenungkannya, maka yang kembali kepada kita adalah ketenangan,” jelasnya.

Selain zikir, ia juga menekankan pentingnya rasa syukur dalam kehidupan. Menurutnya, ajaran Islam mengajarkan manusia untuk senantiasa bersyukur dalam segala keadaan.

Jika seseorang mendapatkan nikmat sesuai harapan, maka dianjurkan membaca “Alhamdulillaahil-ladzii bini‘matihi tatimmush-shoolihaat”. Namun ketika menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan, seorang muslim tetap dianjurkan mengucapkan “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” sebagai bentuk penerimaan terhadap ketentuan Allah.

“Jika kita mampu bersyukur dalam berbagai keadaan, maka kita termasuk orang yang tangguh dan akan dijauhkan dari rasa sedih dan takut yang berlebihan,” ungkapnya.

Dalam tausiyah tersebut, KH Wahyudin juga mengingatkan jamaah agar selalu berbuat baik kepada sesama serta memperbanyak istighfar sebagai bentuk memohon ampun kepada Allah.

Empat hal tersebut dzikir, syukur, berbuat baik, dan istighfar menjadi kunci untuk meraih kebahagiaan serta ketenangan hidup menurut ajaran Islam.

 

Kontributor: Pratama Widodo

Editor: Dhimas

Mungkin Anda Suka