Pengajian Akbar AMM Banjarnegara Jilid 3: “Rahasia Keluarga Berkah, Redam Emosi dengan Perbaiki Sujud”

Ditulis oleh Majelis Tabligh

27 January 2026

Kalibening, 25 Januari 2026 – Atmosfer penuh semangat dan kehangatan menyelimuti kawasan Kalibening (Foodcourt SPBU Kalibening) saat ratusan kader Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) se-Kabupaten Banjarnegara berkumpul dalam gelaran Pengajian Akbar AMM Jilid 3. Agenda ini mengangkat tema “Vibrasi Cinta Asmara Sejati, Cinta Angkatan Muda dalam pandangan Syari’at”, kegiatan ini sukses menggetarkan kemapanan spiritual para pemuda dan pemudi persyarikatan.

Acara dibuka dengan penampilan memukau dari Paduan Suara Pena Harmoni (PC Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul Aisyiyah Kalibening). Lantunan lagu Indonesia Raya, Sang Surya, dan Mars Pemuda Muhammadiyah dibawakan dengan begitu apik hingga membuat Ketua PDPM Banjarnegara, Ustaz Heri Sunaryo, mengaku terharu.

“Jujur, hati saya bergetar mendengar Sang Surya di sini. Kalibening luar biasa. Ini adalah bukti bahwa AMM solid. Kami ingin kegiatan ‘AMM Mengaji’ ini terus bergulir setiap enam bulan sebagai wadah konsolidasi ideologis dan silaturahmi,” ujar Ustaz Heri Sunaryo dalam sambutannya.

Hadir mewakili Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banjarnegara, Ustaz K.H. Furhan Al-Jabal memberikan arahan yang segar namun mendalam. Ia menekankan bahwa AMM adalah wajah modern Muhammadiyah yang tidak boleh kaku.

“Muhammadiyah itu mengurus orang dari lahir sampai mati. Ada pendidikan, kesehatan, dan juga urusan cinta. Sah-sah saja Pemuda dan NA berjodoh, asalkan jangan pacaran yang dilarang Islam. Bangunlah keluarga dengan prinsip wa’asyiruhunna bil ma’ruf, bimbing istri dengan lemah lembut untuk menjadi bidadari surga,” pesan Kyai Furhan yang disambut tepuk tangan riuh jamaah.

Kajian spesial yang menghadirkan narasumber ahli di bidang pranikah dan keluarga, Ustaz Suwondo, M.Pd. Dalam kesempatan tersebut, beliau membedah filosofi cinta dan manajemen konflik keluarga di hadapan kader Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah (NA), dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM).

Ustaz Suwondo, M.Pd adalah seorang dai yang memiliki latar belakang pendidikan kuat di lingkungan Muhammadiyah (S2 Unimma dan sedang menempuh S3). Beliau memiliki sanad hafalan Al-Qur’an 30 juz dan berbagai kitab hadis serta matan ilmiah lainnya. Pengalaman dakwahnya melintasi berbagai pulau di Indonesia (Kangean, Kalimantan, hingga Bengkulu). Beliau mengusung moto keluarga: “Hidup hanya sekali, istikamah mencari rida dan rahmat Ilahi.”

Ustaz Suwondo, M.Pd, yang dikenal melalui program Josuka (Jodohku Sudah Dekat), menekankan bahwa cinta bukan sekadar urusan perasaan, melainkan urusan syariat. Beliau menegaskan bahwa dalam Islam, keberkahan cinta sangat bergantung pada cara meraihnya.

“Banyak orang mendahului rasa cinta dengan cara yang tidak baik (pacaran), sehingga ketika masuk ke dalam lingkaran keluarga, keberkahan dan rasa cinta itu justru lama-lama hilang. Hadirkanlah cinta itu setelah akad,” tegas Ustaz Suwondo, M.Pd. Beliau juga memperkenalkan wadah perjuangan bagi kader yang belum memiliki pasangan melalui grup Jopamu (Jomblo Putra Muhammadiyah) dan Jopim (Jomblo Putri Muhammadiyah) untuk memfasilitasi perjodohan yang sesuai syariat.

Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah mengenai “Vibrasi Cinta”. Ustaz mengibaratkan getaran hati ini seperti seorang pengendara yang lupa membawa surat kendaraan; ia akan merasa gelisah saat melihat polisi meski sang polisi belum tentu menindaknya. Begitu pula dalam hubungan, getaran hati yang positif lahir dari keterbukaan dan kepatuhan pada Allah.

Tanda keluarga yang diberkahi adalah adanya rasa nyaman (amaniah) antara suami dan istri. “Jika suami melihat istri lalu merasa bahagia, dan istri merasa aman saat suami pergi, itulah tanda vibrasi cinta yang dirawat oleh Allah,” ungkapnya.

Ustaz Suwondo, mengingatkan bahwa kalimat Mitsaqon Ghalidhan (perjanjian yang kokoh) di dalam Al-Qur’an hanya disebutkan dalam tiga konteks: perjanjian para Nabi, perjanjian Bani Israil, dan akad pernikahan. Hal ini menunjukkan bahwa menikah adalah tugas suci yang setara dengan risalah kenabian dalam hal tanggung jawab.

Beliau mengkritik fenomena “Generasi Stroberi” atau pasangan yang berani menikah namun belum siap secara mental menghadapi konflik. Untuk itu, beliau menekankan pentingnya pembekalan takwa dua kali lipat sebagaimana diamanatkan dalam QS. An-Nisa ayat 1 dan QS. Al-Hashr ayat 18.

Dalam kajiannya, Ustaz yang sedang menempuh studi S3 ini juga membedah kaitan neurologi dengan ibadah. Beliau menjelaskan bahwa sujud yang benar memungkinkan darah menyuplai oksigen ke Prefrontal Cortex (PFC).

“Sujud akan menghapus watak buruk dan menambah keilmuan. Jika suami atau istri ingin emosinya teredam dan karakternya membaik, maka perbaikilah sujud dan salatnya,” jelasnya.

Menutup kajian, Ustaz Suwondo berpesan kepada orang tua agar tidak sembarangan melepas putri mereka. Beliau menganalogikan kejujuran dan kualitas bibit unggul dalam mencari pasangan hidup, mengambil inspirasi dari kisah kejujuran menantu Umar bin Khattab dan keteguhan Mubarok (ayah Abdullah bin Mubarok).

Kajian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru bagi AMM Banjarnegara untuk membangun rumah tangga yang bukan hanya berlandaskan good looking atau good rekening, tetapi yang utama adalah good attitude dan ketakwaan kepada Allah SWT.

 

Kontributor: Mister Kismadi, SE (MPI PCM Kalibening) Alumni Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah

Editor: Dhimas

Mungkin Anda Suka