Merden, 1 November 2026 – Komplek Masjid Al Falah Merden Kulon tampak dipenuhi ratusan jamaah yang datang dari 15 ranting dan luar cabang merden. Pengajian Ahad Pagi Minggu pertama kali ini medatangkan Ustaz Mujiman yang merupakan Mubaligh Muhammadiyah dari Bantul, Yogyakarta.
Pengajian yang diawali dengan pertunjukkan kesenian serta lantunan ayat suci Al-Qur’an ini sekaligus menjadi sarana mempererat tali silaturahmi, selain sebagai ajang menambah ilmu.
Ketua PCM Merden Dharsum menyampaikan, bahwa Ustaz Mujiman sudah diundang sejak setahun yang lalu, dan Alhamdulillah, beliau saat ini bisa datang menyapa langsung para jamaah di Ranting Merden Kulon.
Dalam kajiannya, Ustaz Mujiman menyampaikan sebuah analogi, jika manusia mendapatkan nikmat aman, sehat dan pangan, artinya manusia tersebut seolah-olah sedang menggenggam dunia, sehingga jika ketiga hal tadi sudah didapat, tak ada alasan lagi untuk tidak mensyukurinya.
Jauhi Thagut
Penceramah yang aktif berdakwah di akar rumput ini juga mengajak para kader Muhammadiyah untuk menjauhi thagut, thagut sendiri bermakna melampaui batas. Terdapat 3 bentuk thagut yang harus dijauhi.
Ma’bud, yakni segala yang disembah selain Allah, atau menyekutukan Allah, di mana perkara ini termasuk dosa besar.
Matbu’, yakni tokoh yang diikuti dalam kemaksiatan, seperti artis, influencer di mana umat muslim harus menjaga diri agar tidak menjadikan kehidupan artis sebagai teladan, karena taka da yang bisa diikuti secara mutlak kecuali Nabi Muhammad SAW.
Mutha’, yakni tokoh yang ditaati, kita memang boleh taat bahkan wajib taat kepada pemimpin jika ia memberikan arahan yang baik, tetapi kita wajib menolak jika sosok pemimpin justru memberikan perintah yang tidak sesuai syariat.
Ustaz Mujiman menerangkan, saat jadi public figure, maka dengarkanlah setiap pendapat, karena boleh jadi pendapat kita tidak akan selalu benar.
“Dengarkan pendapat orang lain, karena kita tidak selamanya benar,” tutur Ustaz Mujiman.
Perkuat Tauhid
Saat hari semakin terik, para jamaah diajak serta untuk meneguhkan tauhid, karena tauhid yang rusak maka semua menjadi rusak. Tauhid layaknya fondasi, yang jika tidak benar-benar kuat, justru akan membuat bangunan menjadi mudah roboh.
Salah satu cara memperkuat tauhid adalah dengan cara berilmu, karena berilmu adalah wajib dimiliki sebelum berbicara dan beramal saleh, karena barangsiapa menginginkan dunia, tentu harus dengan ilmu.
“Penting kita mempelajari ilmu dunia dan ilmu agama, agar keduanya berjalan beriringan,” ujarnya.
Namun ternyata ilmu saja tidak cukup, karena ternyata dibutuhkan juga ilmu tentang kesadaran, yakni kesadaran untuk mengamalkan.
“Koruptor sudah paham bahwa korupsi itu dosa, tapi kok mereka tetap korupsi, jawabannya adalah, karena tidak ada kesadaran bahwa korupsi itu dosa,” terangnya.
Hal ini menjadi penting dikarenakan manusia wajib beramal dengan landasan ilmu, bukan taqlid. Sehingga jangan sampai kita menerima pernyataan tanpa dalil.
“Dahulukan dalil daripada pendapat, karena pendapat bisa saja salah,”
Dirinya juga mengajak para jamaah untuk senantiasa mengamalkan aqidah Muhammadiyah, karena Aqidah di Muhammadiyah adalah untuk diamalkan bukan untuk diperdebatkan.
Kontributor: Dhimas Raditya Lustiono



