Di balik ruangan kedap suara, sang Tuan jabat menandatangani secarik kertas dengan pena tamaknya
Ia tersenyum lalu berkhayal tentang komisi yang ia dapat lusa nanti,
Sementara di luar sana, Tuan rakyat menangis pilu sembari berharap akan kesejahteraan, namun selalu saja berakhir sia-sia.
Bunyi cangkul bersahutan di ladang, para Tuan tani berkata “Ya Allah semoga jerih payah kami berbuah manis”
Namun nyatanya, para petani dan buruh tani hanya bisa gigit jari, karena mereka tak mampu membeli pupuk dan popok untuk anak mereka.
Anak petani menangis karena minta susu
Para petani menangis karena mereka tak mampu memberi uang saku.
Di sebuah istana megah, dengkuran menjengkelkan riuh terdengar,
“Rapat di mulai”, tutur salah seorang manusia pilihan rakyat
Seketika manusia-manusia di dalam ruangan itu terbangun dari tidur ia berkata “Aduh, leherku terasa kaku dan sulit menoleh”, ucap seorang Tuan jabat di sana.
Wakil rakyat memang mudah sakit, bahkan saat kondisi sedang sehat, pikirannya juga bisa sakit, parahnya justru mereka membuat rakyat makin sakit.
Mari kita berhitung, berapa banyak pejabat yang sulit menoleh?
Apakah moralnya sedang sakit
Atau karena lehernya terlampau kaku, sebab matanya lebih sering melihat rupiah daripada melihat buruh dan petani yang dibayar murah
Wahai para Tuan jabat, jika lehermu kaku, berobatlah dan bertobatlah.
Kontributor: Hijran Daffa Izzabik (Anggota PCPM Purwareja Klampok)
Editor: Dhimas



