Saat saya mendapatkan tawaran untuk mengikuti Baitul Arqam Dasar (BADAR) *ini singkatan versi saya, sepertinya tidak ada alasan untuk menolaknya, apalagi setelah mengecek jadwal kerja, oh sepertinya berjodoh. Langkah selanjutnya tinggal minta izin istri, dan tentu saja wanita yang sudah pernah menjabat sebagai Anggota PDNA Wonosobo tersebut tidak memiliki alasan untuk tidak mengizinkan saya.
Singkatnya, saya tidak bisa mengikuti agenda BADAR secara full, karena memang ada tugas yang harus saya lakukan agar semuanya bisa berjalan dengan baik sesuai rencana alias according to plan. Namun kalau disempetin tentu saja bisa untuk diikuti.
Lokasi BADAR yang digelar pada 4-5 Juli ini digelar di Kota Kelahiran saya, Wonosobo, tepatnya di The Lodjie Marong, Desa Karangluhur, Kecamatan Kertek, Kabutapen Wonosobo, di mana desa Karangluhur merupakan tempat di mana saya mengisi masa kecil hingga usia saya layak sunat di tempat pak mantri. Hal ini tentu saja membuat saya berkata “pulang kampung” dalam hati.
Awalnya saya mengira bahwa acara ini akan berjalan semi militer, tapi ternyata tidak, tidak ada agenda baris berbaris di bawah terik sang surya, tidak ada angkat angkat bedil ataupun makan beralaskan ompreng, saya dan seluruh peserta masih bisa haha-hihi, bahkan sesekali masih bisa ngecengin peserta yang ternyata belum menemukan jodoh. Agenda kali ini benar-benar full ngibadah, selalu ada kultum oleh peserta yang dapat giliran kultum ba’da shalat. Pastinya agenda kali ini adalah upgrading keimanan yang nyata.
Para peserta masih bisa makan megono featuring tempe kemul, lalu berdebat tentang nasi megono itu asalnya darimana, ada juga yang kedinginan karena tidak terbiasa dengan suhu di kota Carica, ada juga yang saling memberi wejangan, bahwa nikah itu jangan nunggu mapan, karena faktanya ada yang sudah nikah tapi nggak mapan-mapan. Obrolan serta gojeg kere inilah yang membuat suasana BADAR menjadi lebih hidup, bahkan bukan tidak mungkin bisa membuka pintu kerjasama bilateral antar PCPM.
Para pemateri juga sangat profesional dalam membagikan ilmu serta wawasannya di dunia persyarikatan. Firman Cahyadi selaku Sekretaris PDM Wonosobo, ia bercerita bahwa Pimpinan AUM di Wonosobo akan menghubungi ranting ataupun cabang tempat karyawannya tinggal, sehingga diharapkan karyawan AUM tidak hanya mencari hidup di Muhammadiyah, tetapi juga ikut terlibat dalam agenda Muhammadiyah serta menghidupi Muhammadiyah baik di tingkat Cabang maupun Ranting.
Ada juga Ustaz Sholahudin, yang gaya penyampaiannya soft spoken tapi ketegasan prinsipnya benar-benar tegak lurus, ia bercerita tentang kisahnya saat menolak uang tunai sebesar Rp. 800.000.000, uang tersebut adalah penawaran agar dirinya membuat pernyataan untuk memberikan dukungan kepada “bendera politik” tertentu, singkatnya dirinya menolak untuk menjadi endorse politik. Andai saja tawaran itu diterima, mungkin saja beliau akan hadir dengan memarkirkan Mobil BYD Sealion 7 di halaman The Lodjie.
Selanjutnya ada Ustaz Solikhun, MAP. Sosok yang tidak asing bagi saya, mengingat beliau adalah bagian dari PDM Banjarnegara yang membidangi MPKU dan LRB, dan sebelumnya pernah membidangi MPI, saat bertemu beliau tentu saja tidak ada yang namanya kehabisan topik, karena sepak terjangnya di Muhammadiyah benar-benar paripurna, mulai dari IPM, PDPM, hingga PDM.
Inti dari materi yang Ustaz Solikhun sampaikan justru membuat saya overthinking, apalagi ketika beliau mengajak para peserta untuk melakukan refleksi dengan pertanyaan ‘untuk apa bermuhammadiyah?’, saat pertanyaan itu ditujukan kepada saya, jawaban nir-makna saya lontarkan seperti anak TK yang masih polos “Bermuhammadiyah agar tidak repot tahlilan”. Untungya beliau tidak gampang naik darah, karena jawaban yang diinginkannya bukan jawaban bodoh dari saya yang wawasan dalam bermuhammadiyah hanya 1%
Ustaz Solikhun juga memberi tahu bahwa di Media sosial, statemen netizen tentang Muhammadiyah cenderung positif, namun fakta mirisnya juga harus menjadi perhatian, di mana masih banyak PCM maupun PRM yang tergopoh-gopoh dalam menjalani roda persyarikatan, Gedung, Sekolah, Kampus, Rumah Sakit boleh mewah, tetapi the real Muhammadiyah tetaplah Cabang dan Ranting yang kadang terseok-seok saat menjadi tuan rumah pengajian.
Keesokan harinya, setelah melewati shalat shubuh dan sarapan pagi, saya bertindak sebagai Master of Games alias Ice Breaker, entah ada energi apa yang membuat saya mengajukan diri saat Master of Training menawarkan ‘siapa yang hendak menjadi MOG’, padahal saat mengangkat tangan, saya juga belum terpikirkan tentang materi Ice Breaking atau Outbond yang akan saya pandu, modalnya cukup Bismillah dan sing penting wani.
Alhamdulillah, agenda ice breaking berjalan dengan lancar tanpa halangan, para peserta juga secara ikhlas menjalani setiap games secara antusias, konsekuensi dari ice breaking kali ini bukan push up atau joget-joget, konsekuensi peserta yang melakukan kesalahan adalah sharing 1 ayat yang menjadi inspirasi dalam hidupnya.
Setelah ice breaking selesai, sebagian peserta memilih untuk Mandi, sebagian lain antri sarapan pagi sebelum mengikuti materi.
Materi selanjutnya dibawakan oleh Ustaz Adinda Bagus Satria, saya agak mengernyitkan dahi saat mendengar nama Adinda, mengingat Adinda adalah nama yang sangat feminim, namun ternyata ada filosofi yang teramat dalam sehingga orang tua dari Ustaz Adinda memberikan nama Adinda di awal nama sebelum nama Bagus Satria.
Ustaz Adinda mengajak peserta untuk mengenali kekurangan pada diri sendiri, ya tentu saja karena tidak hanya semua Burger milik Allah, tetapi kesempurnaan juga milik Allah. Dengan mengenali kekurangan diri, kita jadi tahu mana hal yang bisa kita perbaiki.
Setelah Coffee break, ternyata saya harus berpamitan dan tidak bisa mengikuti sesi terakhir karena ada panggilan tugas kemanusiaan, di mana jam 2 siang saya harus berada di IGD Klinik Utama PKU Muhammadiyah Merden, saya memerlukan waktu sebanyak 1.30 menit belum termasuk membujuk anak yang tantrum di tempat mbah karena telanjur nyaman tinggal di Wonosobo dan minta menginap sehari lagi.
Baca Juga: Sinergitas Nasyiatul Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah Melalui Nada dan Syiar
Catatan ini tentu saja belum termasuk resume yang diminta panitia, karena ndilalah buku catatan materi yang saya tulis tertinggal di PKU Merden, sehingga catatan ini saya tulis hanya berdasarkan sisa-sisa kenangan yang mengendap di benak saya.
Akhir kata, ubur-ubur ikan piranha, terima kasih atas acara dan pengalamannya.
Kontributor: Dhimas Raditya Lustiono



