Kehidupan di dunia adalah medan ujian yang penuh dinamika. Tidak ada seorang pun yang luput dari cercaan, fitnah, ghibah (menggunjing), hasad (dengki), atau kebencian orang lain. Bahkan para nabi, rasul, ulama besar, dan orang-orang saleh sekalipun menjadi sasaran. Realitas ini mengajarkan kita untuk tidak berharap sempurna bebas dari gangguan manusia selama masih bernapas di dunia ini.
Dikisahkan bahwa Imam Abdurrahman bin Amr Al-Auza’i rahimahullah (salah satu imam besar mazhab fikih di Syam) pernah menyampaikan keinginannya kepada seseorang: “Aku ingin sebuah rumah yang letaknya di samping orang-orang yang tidak ghibah, tidak hasad, dan tidak membenci.”
Orang itu kemudian mengajaknya ke pekuburan seraya berkata, “Di sinilah tempatnya.”
Ungkapan ini bukan hadis Nabi ﷺ, melainkan hikmah yang sangat dalam menggambarkan realitas kehidupan. Selama masih hidup, manusia akan selalu berinteraksi dengan sesama yang memiliki beragam tabiat, kelemahan, dan nafsu. Hanya di alam kubur—di mana segala aktivitas duniawi berhenti—barulah seseorang terbebas sepenuhnya dari gangguan lisan dan hati orang lain.
Dunia Adalah Tempat Ujian, Allah Ta’ala berfirman:
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh kehidupan adalah ujian. Semakin seseorang berusaha istiqamah dalam ketaatan, semakin besar pula ujian yang mungkin ia hadapi—termasuk dari sesama manusia. Ujian ini bertujuan menyaring siapa yang benar-benar ikhlas dan sabar dalam beramal.
Sejarah para nabi menjadi bukti nyata bahwa tidak ada pengecualian:
– Nabi Nuh ‘alaihissalam diejek dan dicela oleh kaumnya selama ratusan tahun dakwah.
– Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dilemparkan ke dalam api oleh kaumnya karena prinsip tauhidnya.
– Nabi Musa ‘alaihissalam dituduh berbagai hal dan disakiti oleh Bani Israil.
– Nabi Muhammad ﷺ, manusia terbaik, disebut sebagai penyair, penyihir, orang gila (majnun), bahkan kaum Quraisy merencanakan hendak membunuhnya.
Jika manusia-manusia pilihan Allah saja tidak selamat dari kebencian, maka mustahil bagi kita, hamba biasa, untuk mengharapkan semua orang menyukai dan mendukung kita. Keinginan agar “semua orang suka” adalah harapan yang tidak realistis dan bertentangan dengan sunnatullah.
Syariat Islam memberikan panduan yang sangat jelas dan bijaksana:
- Bersabar dan tidak membalas kezaliman dengan kezaliman.
Sabar adalah senjata utama. Balas dendam hanya akan memperburuk keadaan dan merusak hati sendiri. - Fokus memperbaiki diri sendiri. Jangan sibuk membalas setiap komentar atau fitnah. Gunakan energi untuk meningkatkan amal dan mendekatkan diri kepada Allah.
- Memaafkan, selama tidak menghilangkan hak syar’i (seperti qishas atau tuntutan hukum yang adil).
- Mendoakan kebaikan bagi yang menzalimi.
Doakan agar Allah memberikan hidayah, karena kebencian mereka mungkin berasal dari kebodohan atau penyakit hati. - Bertawakal sepenuhnya kepada Allah.
Ridha Allah adalah tujuan utama, bukan ridha manusia.
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya (dan menjadi pelajaran bagi kita):
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan, dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” (QS. Al-Muzzammil: 10)
Meski sering menjadi korban, kita dilarang keras membalas dengan cara yang sama. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian saling dengki (hasad), jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)
Definisi ghibah yang sangat tegas datang dari hadis shahih:
Rasulullah ﷺ bertanya: “Tahukah kalian apa ghibah itu?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda: “Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak suka.” Ditanyakan: “Bagaimana jika yang aku katakan itu benar ada padanya?” Beliau menjawab: “Jika yang engkau katakan itu benar ada padanya, maka engkau telah mengghibahnya. Jika tidak, maka engkau telah memfitnahnya (berdusta atasnya).” (HR. Muslim no. 2589)
Ghibah lebih berbahaya daripada banyak dosa besar karena ia memakan pahala seperti api memakan kayu bakar, dan hak-hak sesama harus diselesaikan di akhirat jika tidak di dunia.
Selama masih hidup di dunia, kita tidak akan menemukan lingkungan yang sepenuhnya steril dari ghibah, hasad, dan kebencian. Yang bisa kita lakukan adalah:
– Menjaga lisan dan hati sendiri.
– Memperbaiki akhlak.
– Memperbanyak doa dan dzikir.
– Bersabar atas ujian dari manusia.
– Menjauhi pergaulan yang memperburuk hati.
Ingatlah, istirahat yang sempurna dari segala gangguan manusia bukan di dunia, melainkan ketika seorang mukmin bertemu Allah dalam keadaan husnul khatimah. Di sana, tidak ada lagi lisan yang menggunjing, hati yang dengki, atau mata yang iri.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga lisan kita dari ghibah, membersihkan hati kita dari hasad, melapangkan dada kita untuk memaafkan, serta mengokohkan kita dalam kesabaran hingga akhir hayat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 🤲
Wallahu a’lam bish-shawab.
Kontributor: Elza Textile



