Purwareja, 2 Januari 2026.- Menjadi pertemuan perdana PRM Purwareja, pertemuan ini difokuskan untuk pembahasan mengenai teknis dan Ubo Rampe (peralatan dan suguhan yang diperlukan) guna menyambut hajat PCM Purwareja Klampok yang diselenggakan di PRM Purwareja tepatnya di SMP Muhammadiyah Purwareja Klampok, namun bukan warga Muhammadiyah namanya jika pembahasannya tidak melebar ke pembahasan terkait kondisi persyarikatan, terlebih waktu semakin mendekati masa penerimaan peserta didik baru, sudah tentu para pembesar PRM Purwareja turut pening memikirnya. Meski demikian perasaan optimis tetap terpancar di wajah lelah mereka, walaupun kantuk datang tanpa pemberitahuan, namun rupanya tidak menyurutkan semangat mereka dalam upaya peningkatan kualitas pengajian rutin Ahad Manis pada 11 Januari kelak.
Sebagai pembukaan pertemuan ini Makhsuni memberikan nasihat.
“Mudah mudahan di tahun 2026 ini, kita dapat meningkatkan semua, termasuk kegiatan organisasi, dan sosial kita, serta hablum minannas dan hablum minallah, serta mampu meningkatkan toleransi baik se-agama maupun dengan yang berbeda keyakinan, tentu dengan batasan dalam koridor Muhammadiyah,” harap pensiunan guru tersebut.
Tahun baru bukan hanya sekadar perubahan kalender semata, melainkan perlu dibarengi dengan perubahan akhlak menuju lebih baik lagi.
Dalam sambutannya ketua PRM Purwareja Teguh Puji Raharjo memberikan saran untuk apa saja yang perlu diberikan.
“Perlu adanya fokus pelaksanana teknis acara dalam pelaksanaan pengajian nanti, agar acara dapat berjalan dengan lancar dan lebih tertata, serta tampilan pentas yang akan ditampilkan pun perlu adanya kesegaran dalam pengajian nanti demi meningkatkan engagement pengajian nantinya,” ucap Teguh.
Ia menyoroti kurangnya rasa bangga persyarikatan dalam menunjukkan apa yang dimiliki, serta menyayangkan tampilan-tampilan yang selama ini ditunjukan terkesan monoton.
Menindaklanjuti saran dari Ketua PRM Purwareja, Sunarto memberikan tanggapannya.
“Kita harus bangga dengan Muhammadiyah, pergerakan kita boleh kecil-kecil namun dampaknya masif dirasakan, jadi jangan pernah berkecil hati dalam berMuhammadiyah,” sependapat dengan Teguh, ia menceritakan sepak terjang Muhammadiyah dalam membantu bencana di Sumatra, sehingga perasaan malu dan minder sebagai warga Muhammadiyah menurutnya tidak perlu ada.
Suasana sejuk menembus pada malam ini di Masjid Baitul Mukhsonah, Amir Syaifudin mengingatkan terkait komitmen PRM Purwareja terhadap AUM yang dikelolanya.
“Menjadi komitmen kita, dalam menjaga eksistensi AUM Ranting, baik BA, SD dan SMP, dan kita memang sudah berkomitmen bahwa PRM ikut membantu dalam masalah finansial (Honorarium), hingga saat ini terjadi penurunan pemasukan (infaq) LazizMu, sehingga tidak mencukupi untuk mengakomodir honor guru-guru AUM khususnya SD dan BA Purwareja, karena jika bukan kita siapa lagi?,” tegasnya.
AUM yang ada di wilayah PRM Purwareja memang mengalami penurunan calon peserta didik baru, oleh karenanya PRM Purwareja turut mengupayakan agar dapur AUM dapat tetap menyala serta kesejahteran guru setidaknya dapat sedikit terjaga. Dengan berkurangnya Infaq LazizMu yang masuk tentu saja memberikan goncangan terhadap stabilitas finansial PRM Purwareja hingga berdampak pada kesejahteraan guru-guru AUM.
“Perlu adanya donatur tetap, lingkupnya bisa di luar kecamatan bahkan bisa di lain kabupaten, seperti sebar Proposal, hal ini menjadi perlu karena kondisi kita juga perlu hal tersebut, saya rasa cara tersebut akan lebih efektif,” tutur Edi Suroso memberikan idenya, menurutnya dengan adanya donatur tetap dapat membantu berlangsungnya roda pergerakan, namun ia juga menegaskan bahwa perlu adanya rencana tindak lanjut untuk meningkatkan rasa kepercayaan donatur kepada PRM Purwareja nantinya.
Derasnya hujan terdengar memenuhi ruangan, menjadi bukti bahwa menjalani sebuah persyarikatan sebesar Muhammadiyah tidaklah mudah, perlu adanya kesadaran dalam setiap diri warganya agar roda persyarikatan dapat tetap berputar dan terus memberikan manfaat untuk sekitar. Dari diskusi-diskusi sederhana Muhammadiyah memupuk langkahnya, meski berat namun asa harus tetap ada.
Kontributor: Hijran DI
Editor: Dhimas



